Published March 17, 2013 by harryfadlyumamit

LAPORAN PRAKTIKUM

 TEKNIK BUDIDAYA TANAMAN

DI SUSUN

O

L

E

H

KELOMPOK I:

HARRY F. UMAMIT

SANTHY SLAMET

EKO J. PATALATU

FITALIS RILALE

HERIN KESAULYA

YONGKI TASIJAWA

 

 

 

PROGAM STUDI AGRIBISNIS

JURUSAN BUDIDAYA PERTANIAN

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS PATTIMURA

AMBON

2012

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1 Latar Belakang

            Untuk meningkatkan dan menjaga kestabilan produksi pertanian, khususnya tanaman pangan, sangat perlu diterapkan teknologi yang murah dan mudah bagi petani. Teknologi tersebut dituntut ramah lingkungan dan dapat menfaatkan seluruh potensi sumberdaya alam yang ada dilingkungan pertanian, sehingga tidak memutus rantai sistem pertanian.

            Penggunaan pupuk bokasi EM merupakan salah satu alternatif yang dapat diterapkan pada pertanian saat ini. Pupuk bokasih adalah pupuk organik (dari bahan jerami, pupuk kandang, samapah organik, dll) hasil fermentasi dengan teknologi EM-4 yang dapat digunakan untuk menyuburkan tanah dan menekan pertumbuhan patogen dalam tanah, sehingga efeknya dapat meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman.

            Bagi petani yang menuntut pemakaian pupuk yang praktis, bokasih merupakan pupuk organik yang dapat dibuat dalam beberapa hari dan siap dipakai dalam waktu singkat. Selain itu pembuatan pupuk bokasi biaya murah, sehingga sangat efektif dan efisien bagi petani padi, palawija, sayuran, bunga dan buah dalam peningkatan produksi tanaman.

            Selain pupuk bokasi, mencangkok pun merupak alternatif yang sering digunakan para petani dalam mengefisienkan waktu produksi suatu tanaman yang dinilai memberi keuntungan maksimal.

1.2 Tujuan Praktikum

            Praktikum ini bertujuan agar :

  1. Mahasiswa dapat mengenal dan mengetahui teknik budidaya tanaman dengan benar.
  2. Mahasiswa dapat memanfaatkan limbah organik yang dapat dijadikan sebagai bahan pembuatan pupuk bokasih.

 

1.3 Metode Yang Digunakan

  1. 1.      Tempat dan Waktu

Praktikum ini dilaksanakan di kediaman Ir L. L. Riupassa/O. Dilaksanakan pada tanggal 30 Juni 2012, jam 12.00-14.30 WIT.

 

  1. 2.      Alat dan Bahan

Ü  Alat

Alat yang digunakan adalah :

ü  Pisau/cutter yang tajam

ü  Gunting

ü  Neraca/Timbangan

ü  Loyang

ü  Sekop

ü  Polybag

ü  Tali rafia

ü  Gergaji

 

Ü  Bahan

Bahan yang digunakan adalah :

ü  Larutan EM-4

ü  Daun Sirsak 100 lembar

ü  Pupuk kandang

ü  Sekam

ü  Dedak

ü  Jerami

ü  Ampas/serbuk gergaji

ü  Rumput-rumput hijau

ü  Ela sagu

ü  Larutan EM

ü  Tanah

ü  Pembungkus

ü  Tanaman Jambu Air, Belimbing, dll.

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

            Kegiatan yang kami lakukan pada saat praktikum adalah :

ü  Cara membuat polybag dan transplanting tanaman (pada budidaya tanaman Seledri),

ü  Membuat pupuk bokasih dan pestisida nabati, serta

ü  Mencangkok.

 

  1. 1.      Budidaya Tanaman Seledri (Apium graveolens L.)

      Seledri (Apium graveolens L.) termasuk dalam famili Umbelliferae dan merupakan salah satu komoditas sayuran yang banyak digunakan untuk penyedap dan penghias hidangan. Biji seledri juga digunakan sebagai bumbu dan penyedap dan ekstrak minyak bijinya berkhasiat sebagai obat. Apiin (apigenin 7– apiosilglukosida) adalah glukosida penghasil aroma daun seledri dan umbi celeriac. Tanaman Seledri dapat dibagi menjadi Seledri Tangkai, Seledri Umbi dan Seledri Daun.

 

  1. a.      Persyaratan Tumbuh

      Seledri merupakan tanaman yang sangat tergantung pada lingkungan. Untuk dapat memperoleh kualitas dan hasil yang tinggi, seledri membutuhkan temperatur berkisar antara 16–210C. Tanah yang baik untuk pertumbuhan seledri adalah yang mampu menahan air, berdrainase baik dan pH tanah berkisar antara 5,8–6,7. Karena memiliki sistem perakaran dangkal, Seledri menghendaki air yang selalu tersedia. Irigasi tetes merupakan cara penggunaan air yang efisien dan hemat, serta dapat meningkatkan efisiensi penggunaan nitrogen.

 

  1. b.      Budidaya Tanaman
  • Persiapan Benih

            Seledri dapat diperbanyak secara generatif dengan biji atau vegetatif dengan anakan. Untuk tujuan komersil tanaman seledri dapat diperbanyak dengan biji. Benih berasal dari varietas unggul dengan daya kecambah > 90%.

            Ada tiga jenis seledri yang biasa dibudidayakan:

ü  Budidaya Seledri jenis Seledri Daun atau Seledri Iris (A. graveolens Kelompok Secalinum) yang biasa diambil daunnya dan banyak dipakai di masakan Indonesia. 

ü  Budidaya Seledri jenis Seledri Tangkai (A. graveolens Kelompok Dulce) yang tangkai daunnya membesar dan beraroma segar, biasanya dipakai sebagai komponen salad. 

ü  Budidaya Seledri jenis Seledri Umbi (A. graveolens Kelompok Rapaceum), yang membentuk umbi di permukaan tanah; biasanya digunakan dalam sup, dibuat semur, atau schnitzel. Umbi ini kaya provitamin A dan K.

 

 

  • Pengolahan Lahan

ü  Lahan ideal adalah tanah yang subur, gembur, mengandung bahan organik, mampu menahan air dan berdrainase baik dengan pH tanah antara 5,5-6,5.

ü  Tanah dicangkul sedalam 20-30 cm biarkan selama 15 hari, jika pH tanah kurang dari 6,5 campurkan kapur kalsit atau dolomit dengan tanah olahan, dosis kapur 1-2 ton/ha tergantung pH tanah dan jumlah Alumunium di dalam tanah, pemberian 2-3 minggu sebelum tanam. 

ü  Buat bedengan dengan lebar 100 cm, tinggi 30 cm, panjang sesuai lahan, dan jarak antar bedengan 50 cm.

ü  Bedengan diberi naungan berupa alang-alang atau jerami dengan tinggi 1-1,5 m.

ü  Selain bedengan, dapat juga menggunakan media polybag.

 

  • Persemaian

ü  Benih disemai pada bedengan di dalam alur/larikan sedalam 0,5 cm dengan jarak antar alur 10-20 cm, sebelum disemai, benih direndam dalam air hangat (500C) atau dalam larutan Frevicur N dengan konsentrasi 0,1 % selama + 2 jam, kemudian dikeringkan. Selain itu, benih dapat di semai pada wadah/tempat khusus, seperti pot/jirigen 5 liter yang dipotong salah satu bagian sisinya.

ü  Tutup benih dengan tanah tipis dan siram permukaan bedengan sampai lembab.

ü  Untuk menjaga kelembaban persemaian ditutup dengan alang-alang atau jerami dan ditinggikan tutup tersebut apabila kecambah telah tumbuh.

 

  • Penanaman

ü  Setelah ± 40 hari atau telah berdaun 3-4 helai cabut bibit seledri yang sehat dengan akarnya. Berikut adalah tanaman Seledri yang siap dipindahkan ke polybag.

 

 

ü  Potong sebagian akar, selanjutnya akar direndam kedalam larutan pestisida Benlate atau Derosol pada konsentrasi 50% sekitar 15 menit.

ü  Transpalnting bibit

            Transpalanting dapat dilakukan pada bedengan ataupun polybag.

  • Transpalnting ke bedengan

            Pindahkan bibit pada bedengan yang telah dipersiapkan, satu bibit per lobang tanam, dengan jarak tanam: 25 x 30 cm; 20 x 20 cm atau 15 x 20 cm (tergantung varietas) dan padatkan tanah disekitar batang.

  • Transpalnting ke polybag

            Sebelum bibit dipindahkan, dipersiapkan media ploybag terlebih dulu. Berikut adalah teknik membuat polybag yang baik.

µ  Polybag dilipat kecil kemudian diikat dengan tali rafia di bagian bawahnya. Hal ini dimaksudkan agar bagian bawah polybag dapat berbentuk bulat.

µ  Setelah diikat, kemudian polybag dibalik kearah dalam agar polybag dapat diletakkan dengan baik.

µ  Selain itu, polybag dapat dibuat dengan berbagai bentuk sesuai selera. Caranya, polybag dilipat kemudian digunting bagian atasnya sesuai dengan keinginan. Setelah itu, bagian bawahnya diikat dan dibalik seperti polybag yang pertama.

µ  Setelah polybag selesai dibentuk, masukkan tanah secukupnya, ±1/3 polybag. Kemudian  benih siap  ditanam. Berikut adalah gambar benih yang telah di transplanting ke polybag dengan berbagai macam bentuk.

 

 

ü Siram bedengan/polybag sampai lembab.

 

  • Pemeliharaan Tanaman
    • Jika ada tanaman yang mati lakukan penyulaman 7-15 hari setelah tanam.
    • Penyiangan gulma dilakukan bersamaan dengan penggemburan tanah pada umur 2 dan 4 minggu setelah tanam, penyiangan berikutnya disesuaikan dengan keadaan gulma.
    • Di awal masa pertumbuhan, penyiraman dilakukan 1-2 kali sehari, berikutnya dikurangi menjadi 2-3 kali seminggu tergantung dari cuaca. Tanah tidak boleh kekeringan atau tergenang air (becek).

 

  • Pemupukan
    • Pupuk dasar diberikan 3 hari sebelum tanam, yaitu pupuk kotoran ayam dengan dosis 20.000 kg/ha sebaiknya pupuk kompos organik hasil fermentasi dengan dosis 4 kg/m2, atau sering dikenal dengan sebutan “Pupuk Bokasih”. Berikut adalah cara pembuatan pupuk bokasih.

Ü Bokasih Pupuk Kandang

Bahan :

ü Pupuk kandang           (20 bagian)

ü Sekam                         (20 bagian)

ü Dedak                         (1 bagian)

ü Larutan EM

Ü Bokasih Jerami

Bahan :

ü  Jerami                          (20 bagian)

(termasuk rumput/pupuk hijau yang telah dipotong-potong 5-10 cm)

ü  Dedak                         (1 bagian)

ü  Sekam                         (20 bagian)

ü  Larutan EM

Ü Bokasih Ampas Gergaji

Bahan :

ü  Ampas/serbuk gergaji                        (30 bagian)

ü  Pupuk kandang                                 (10 bagian)

ü  Rumput-rumputan/pupuk hijau         (10 bagian)

ü  Larutan EM

Ü Bokasih Ela Sagu

Bahan :

ü  Ela Sagu                                            (30 bagian)

ü  Pupuk kandang                                 (10 bagian)

ü  Rumput-rumputan/pupuk hijau         (10 bagian)

ü  Larutan EM

 

v Cara Pembuatan :

ü  Bahan-bahan untuk bokasih dicampur merata.

ü  Basahi campuran bahan perlahan-lahan sampai kadar air mencapai 30-50%. Caranya adonan dikepal dengan tangan, kemudian dilepas, tangan sepeti berkeringat (basah), itu pertanda kadar air telah mencukupi.

ü  Adonan digundukan diatas ubin yang kering dengan ketinggian 15-20 cm, kemudian ditutup dengan karung goni, selama 3-4 hari.

ü  Pertahankan suhu adonan 40-50 0C. Jika suhu lebih dari 50 0C, buka tutup karung dan gundukan adonan dibolak-balik, kemudian ditutup lagi. Suhu yang tinggi dapat  mengakibat pembusukan. Pengecekan dapat dilakukan setiap 5 jam.

ü  Setelah 4-6 hari, bokasih telah selesai terfermentasi dan siap digunakan sebagai pupuk organik. Berikut adalah gambar pupuk bokasih yang telah jadi dan siap dicampurkan dengan tanah.

 

 

 

Gambar : bokasih yang telah dicampur dengan tanah. Dengan perbandingan 3:1(3 karung tanah : 1 karung bokasih).

 

  • Pada umur 2 minggu setelah tanam berikan pupuk N 300 kg, P 75 kg dan K 250 kg/ha secara larikan dibarisan tanaman.
  • Pupuk susulan berikutnya larutkan 2-3 kg pupuk NPK ke dalam 200 liter air dan berikan secara kocor diantara barisan tanaman, hal ini dapat dilakukan selama tanaman masih produksitf dengan interfal 7 hari satu kali pemberian.
  • Dapat juga diberikan pupuk cair dengan dosis 0,3 ml/m2 yang dimulai pada umur 3 minggu setelah tanam dengan interval 10 hari satu kali.

 

  • Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT)
    • Hama yang ditemui seperti Ulat Tanah, Keong, Kutu Daun Tungau dan Trhips. Hama dapat dihilangkan secara mekanik yaitu dipungut dengan tangan.
    • Penyakit yang sering menyerang tanaman yaitu Bercak Cercospora, Bercak Septoria, Virus Aster Yellow. Pengendalian dilakukan mulai dari persemaian hingga panen, jika terpaksa gunakan pestisida yang aman dan mudah terurai seperti pestisida biologi, pestisida nabati atau pestisida piretroid sintetik.

Berikut adalah cara pembuatan pestisida nabati dengan mengunakan Daun Sirsak dalam mengendalikan Hama Trhips.

ü  Tumbuk/gunting kecil-kecil 100 lembar daun sirsak. Kemudian diblender untuk mendapatkan daun yang mudah diperah.

ü  Rendam dalam 5 liter air dan tambahkan 15 gr detergen .

ü  Saring larutan tersebut dengan kain/penyaring.

ü  Encerkan setiap liter larutan dalam 10 liter air.

 

Gambar : daun Sirsak yang telah diencerkan dengan 10 liter air.

ü  Larutan semprot siap digunakan.

 

 

Gambar : handsprayer 2 liter

 

 

 

  1. c.    Panen dan Pascapanen
  • Panen
    • Seledri dapat dipanen setelah berumur 40 sampai dengan 150 hari setelah tanam (tergantung varietas).
    • Saledri daun dipanen 4-8 hari sekali.
    • Seledri potong dipanen dengan memotong tanaman pada pangkal batang secara periodik sampai pertumbuhan anakan berkurang.
    • Seledri umbi dipanen dengan memetik daun-daunnya dan dilakukan secara periodik sampai tanaman kurang porduktif.

 

  • Pascapanen
    • Hasil panen diseleksi dengan cara membuang tangkai daun yang cacat atau terserang hama.
    • Untuk membersihkan dari kotoran/tanah dan residu pestisida, Seledri dicuci dengan air mengalir atau disemprot kemudian tiriskan di rak-rak.
    • Sortasi perlu dilakukan terutama jika Seledri akan dipasarkan di swalayan atau untuk eksport. Sortasi dilakukan berdasarkan ukuran dan jenis yang seragam dan sesuai dengan permintaan pasar.
    • Seledri diikat pada berat tertentu yang disesuaikan dengan permintaan pasar.

 

 

  1. 2.      Mencangkok

 

Ü  Persiapan

Siapkan alat dan bahan yang terdiri dari pisau, sabut kelapa/plastik bening, tali, campuran tanah subur, dan cabang yang cukup umur.

 

Ü  Pelaksanaan mencangkok

ü Pilih cabang yang memenuhi persyaratan, yaitu berukuran cukup besar, tidak terlalu muda ataupun tua, pertumbuhannya baik, sehat dan tidak cacat, serta lurus.

ü Tentukan tempat untuk keratan pada bagian cabang yang licin.

ü Buat dua keratan (irisan) melingkar cabang dengan jarak antara 3–5 cm.

 

 

 

 

 

 

ü Lepaskan kulit cabang bidang keratan tadi.

 

 

ü Keringkan kambium hingga tampak kering.

ü Biarkan bekas keratan mengering antara 3 hari sampai 5 hari.

ü Olesi bidang sayatan dengan zat pengatur tumbuh akar (rooton f).

ü Ikat pembalut cangkok pada bagian bawah keratan.

 

 

ü Letakkan campuran tanah subur pada bidang karatan sambil dipadatkan membentuk bulatan setebal ± 6 cm.

ü Bungkus tanah dengan pembalut sabut kelapa atau lembaran plastik.

ü kat ujung pembalut (pembungkus) di bagian ujung keratan.

ü Ikat bagian tengah pembungkus cangkok, seperti tampak pada gambar di bawah ini.

 

 

Ü  Pemotongan bibit cangkok

Setelah bibit cangkok menunjukkan perakarannya (1,5–3,5 bulan dari pencangkokan), potong bibit cangkok dari pohon tepat dibawah bidang keratan, seperti tampak pada gambar di bawah ini.

 

 

Ü  Pendederan bibit cangkok

ü  Siapkan polybag berdiameter antara 15-25 cm atau sesuai dengan ukuran bibit cangkok.

ü  Isi polybag dengan media berupa campuran tanah dan pupuk kandang matang (2:1) hingga mencapai setengah bagian polybag.

ü  Lepaskan (buka) pembalut bibit cangkok.

ü  Pangkas sebagian dahan, ranting, dan daun yang berlebihan untuk mengurangi penguapan.

ü  Tanamkan bibit cangkok tepat di tengah-tengah polybag sambil mengatur perakarannya secara hati-hati.

 

ü  Penuhi polybag dengan media hingga cukup penuh sambil memadatkan pelan-pelan pada bagian pangkal batang bibit cangkok.

ü  Siram media dalam polybag dengan air bersih hingga cukup basah.

ü  Simpan bibit cangkok di tempat yang teduh dan lembab.

ü  Biarkan dan pelihara bibit cangkok selama 1-1,5 bulan agar beradaptasi dengan lingkungan setempat dan tumbuh tunas-tunas dan akar baru.

 

 

ü  Pindah tanamkan bibit cangkok yang sudah tumbuh cukup kuat ke kebun atau dalam pot, seperti tampak pada gambar di dibawah ini.

 

 

Ü  Pengakhiran

Berhasil tidaknya cangkok dapat diketahui setelah 1,5-3,5 bulan kemudian. Berdasarkan pengalaman para pembibit tanaman buah-buahan, pembungkus (pembalut) cangkok yang berupa lembaran plastik lebih cepat menumbuhkan akar dibandingkan sabut kelapa.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

            Kesimpulan yang dapat diambil dari pembahasan ini adalah :

Ü  Budidaya tanaman Seledri dapat dimulai dari persiapan benih, pengolahan lahan, persemaian, penanaman, pemeliharaan, pemupukan, pengendalian OPT, panen dan pascapanen.

Ü  Dalam penanaman, benih dapat ditanam pada bedengan ataupun polybag. Polybag sendiri dapat dibentuk sesuai dengan keinginan. Kemudian bibit di transplanting ke bedengan atau polybag.

Ü  Pemupukan dapat memanfaatkan bahan-bahan organik yang dikenal dengan pupuk organik/pupuk bokasih.

Ü  Teknik budidaya tanaman yang lain adalah mencangkok. Mencangkok dapat mempersingkat waktu persemaian tanaman.

 

3.2 Saran

            Setelah menyusun laporan ini, kami menyarankan agar dosen pembimbing mata kuliah dapat menjelaskan kepada kami tentang apa yang telah kami jelaskan dalam laporan ini, yang mungkin masih jauh dari apa yang diharapkan oleh dosen pembimbing mata kuliah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

http://mangtolib.blogspot.com/2011/10/budidaya-seledri-di-dataran-rendah.html

http://www.deptan.go.id/daerah_new/banten/dispertanak_pandeglang/artikel_12.htm

http://ditjenbun.deptan.go.id/perlindungan/index.php?option=com_content&view=article&id=156:ramuan-pestisida-nabati-dari-daun-sirsak-annona-muricata-l-&catid=15:home 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: