Teknologi Pengolahan Hasil untuk Mengatasi Masalah Ketahanan Pangan

Published May 8, 2013 by harryfadlyumamit

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Salah satu subsektor yang sangat penting dikembangkan untuk mendukung pembangunan pertanian adalah industri pengolahan hasil pertanian (makanan). Pengembangan industri makanan diharapkan akan mampu menyerap hasil pertanian yang diusahakan petani, memberikan nilai tambah terhadap produk pertanian, membuka kesempatan kerja, sumber devisa sekaligus menyediakan produk pangan yang semakin beragam. Pengolahan bahan makanan agar lebih bergizi dan awet memiliki interelasi terhadap pemenuhan gizi masyarakat, maka pemerintah hendaknya selalu berusaha untuk menyediakan suplai pangan yang cukup, aman dan bergizi. Salah satunya dengan melakukan berbagai cara pengolahan dan pengawetan pangan yang dapat memberikan nilai tambah bagi produsen dan perlindungan terhadap bahan pangan yang akan dikonsumsi. Pangan secara umum bersifat mudah rusak (perishable), karena kadar air yang terkandung di dalamnya sebagai faktor utama penyebab kerusakan pangan itu sendiri. Semakin tinggi kadar air suatu pangan, akan semakin besar kemungkinan kerusakannya baik sebagai akibat aktivitas biologis internal (metabolisme) maupun masuknya mikroba perusak. Permintaan produk olahan pertanian juga menunjukkan kecenderungan semakin meningkat baik pada pasar domestik maupun internasional (terutama olahan tapioka). Hal ini bukan saja disebabkan oleh meningkatnya jumlah penduduk dunia secara kuantitatif tetapi juga secara kualitatif kesejahteraan penduduk tersebut semakin baik yang menyebabkan semakin meningkatnya kebutuhan akan pangan yang bergizi dan beragam. Sejalan dengan hal tersebut, maka pengembangan teknologi pengolahan pertanian terutama industri makanan sangat dibutuhkan. Untuk itu pengembangan teknolog pascapanen semakin diperlukan. Upaya untuk mengembangkan teknologi tersebut sangat mungkin dilakukan mengingat masih tersedianya lahan dan teknologi on farm. Ketersediaan sumber daya alam, sumber daya manusia, besarnya hasil pertanian yang dimiliki, serta pasar terbuka akan memberikan daya tarik tersendiri bagi pelaku pada industri pengolahan hasil. Namun disisi lain, kendala pengembangan R&D juga masih ada dan akan menghambat peningkatan teknologi pengolahan hasil. Untuk itu maka sangat penting untuk meneliti berbagai faktor yang mempengaruhi adopsi inovasi teknologi pengolahan hasil. Sebagai salah satu subsektor yang sangat strategis untuk dikembangkan maka teknologi pengolahan hasil harus didorong secara sistematis dan signifikan. Meningkatnya adopsi teknologi tersebut akan tercermin dari meningkatnya akselerasi sistem inovasi teknologi pengolahan hasil. Hal ini tidak terlepas dari berbagai faktor yang mempengaruhi sistem inovasi, baik yang positif maupun yang negatif. Permasalahan utama dalam inovasi teknologi hasil pertanian adalah adanya teknolog yang relatif mahal, alat dan mesin yang tidak sesuai dengan kondisi lokasi, tingkat keuntungan yang rendah sehingga tingkat adopsi teknologi menjadi rendah. 1.2 Tujuan Penulisan Tujuan dari penulisan ini adalah :  Untuk mengetahui pentingnya teknologi pengolahan hasil dalam mengatasi masalah ketahanan pangan.  Melaksakan tugas yang diberikan oleh dosen. 1.3 Rumusan Masalah 1. Bagaimana potensi pengembangan dan prospek pengolahan hasil pertanian? 2. Apa faktor dan kendala adopsi teknologi pengolahan hasil komoditas pangan? 3. Bagaimana kontribusi inovasi teknologi terhadap ketahanan pangan? 1.4 Kegunaan  Memberikan informasi kepada pembaca tentang pentingnya teknologi dalam pengolahan hasil untuk mengatasi masalah ketahanan pangan.  Meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam hal menulis serta membaca referensi akademis.  Melatih mahasiswa mengembangkan nalar serta ilmu pengetahuannya secara sistematik. 1.5 Metode Penulisan Adapun metode yang kami gunakan dalam penulisan ini adalah pendekatan kepustakaan. BAB II PEMBAHASAN 2.1 Potensi Pengembangan dan Prospek Pengolahan Hasil Pertanian Bahan pangan pokok lokal mempunyai produk turunan yang cukup beragam. Produk turunan tersebut dapat berupa bahan setengah jadi seperti tepung, sedangkan produk jadinya dapat berupa pangan yang sudah siap santap. Berbagai hasil olahan ubi kayu seperti gaplek, tepung tapioka, dan tape telah banyak dikenal di masyarakat. Perubahan kebiasaan makan pada suatu kelompok masyarakat bisa terjadi akibat perubahan keadaan sosial, ekonomi, maupun budaya. Faktor penting yang menjadi penyebab dinamisnya kebiasaan makan adalah daya terima masyarakat terhadap bahan pangan yang ada. Situasi perdagangan global juga dapat memberikan kontribusi yang besar terhadap proses pengenalan makanan baru. Oleh karena itu, kebiasaan makan masyarakat dapat mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Jagung, ubi kayu dan ubi jalar memiliki kandungan gizi yang cukup baik. Kandungan karbohidrat pada jagung tidak jauh berbeda dengan padi, demikian pula dengan kandungan proteinnya. Kandungan karbohidrat yang tinggi merupakan syarat utama pemanfaatan suatu bahan sebagai bahan pangan alternatif. Produk pertanian masih dapat ditingkatkan produksinya untuk diolah lebih lanjut melalui proses pascapanen dan diupayakan agar dapat tersedia sepanjang tahun. Pisang merupakan salah satu komoditas pertanian yang dibudidayakan secara tumpangsari dan tidak intensif. Komoditas lainnya, yaitu ubi kayu, jagung, dan ubi jalar umumnya dibudidayakan secara monokultur dan intensif. Sebagian besar hasil panen komoditas tersebut dijual secara segar. Pengembangan pengolahan hasil pertanian bisa dilakukan melalui kemitraan, antara lain dengan model inti-plasma dimana perusahaan besar berperan sebagai penghela dan pengusaha-pengusaha kecil sebagai plasma. Bisa juga dikembangkan kemitraan melalui subkontrak dimana pengusaha kecil mendapatkan pesanan perusahaan besar mengolah produk sesuai standar yang disepakati, misalnya PT Garuda Food dengan pengusaha agroindustri di Pati untuk pengolahan beberapa produk. 2.2 Faktor-faktor dan Kendala Adopsi Teknologi Pengolahan Hasil Komoditas Pangan Introduksi teknologi pengolahan hasil dan peralatan pertanian perlu dilakukan oleh pemerintah. Hal ini untuk memperkenalkan bahwa produk pertanian bisa diolah dengan teknologi yang dibuat oleh pemerintah agar rumah tangga ata industri pengolah produk pertanian mendapat nilai tambah. Pendampingan penggunaan teknologi dan peralatan perlu dilakukan hingga pengusaha agroindustri bisa memanfaatkan secara optimal. Selanjutnya introduksi teknologi dan peralatan bisa memicu masyarakat untuk menciptakan atau memodifikasi teknologi dan peralatan sejenis yang lebih sesuai dengan kondisi setempat dan skala usaha yang ada (Kiswanto dan Wijayanto, 2009). Bantuan permodalan untuk pengembangan usaha bias menunjang agroindustri yang dikembangkan oleh masyarakat. Umumnya industri skala mikro, kecil dan menengah sangat memerlukan modal pinjaman namun belum terbiasa berhubungan dengan bank. Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang berbunga rendah dengan agunan relatif sedikit atau Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) yang meminjamkan modal dengan bunga rendah bisa menjadi alternatif sumber modal bagi pengusaha industri tersebut. Pelaku agribisnis yang diintroduksi dengan teknologi pengolahan dan peralatan pertanian hendaknya dipilih yang memiliki jiwa wiraswasta. Semangat untuk mengolah produk pertanian dan memberikan keuntungan yang layak perlu kegigihan dan ketekunan sehingga tidak bisa dilakukan setiap orang jika tidak berjiwa wiraswasta. Ketersediaan bahan baku sepanjang tahun merupakan prasyarat agar industri pengolahan pertanian yang ada bisa berproduksi secara kontinyu. Bahan baku tidak harus berasal dari sekitar lokasi agroindustri tetapi bisa berasal dari daerah lain asalkan terjangkau dari segi harga maupun transportasi. Tenaga kerja yang terampil sesuai dengan sifat dan ciri teknologi dan pengolahan pertanian sangat menunjang aktivitas usaha. Pada taraf tertentu pengusaha agroindustri bisa mencari dan melatih tenaga kerja sesuai keperluan. 2.3 Kontribusi Inovasi Teknologi terhadap Ketahanan Pangan Produk olahan pangan pokok lokal yang konvensional seperti jagung, ubi kayu, dan ubi, dianggap sebagai pangan yang kurang bergengsi. Indonesia mempunyai potensi sumber daya pangan lokal yang sangat beragam. Namun yang menjadi masalah sejauh mana potensi tersebut dapat dimanfaatkan, yaitu saat permintaan terhadap produk tersebut meningkat. Hal ini ditunjukkan oleh sejauh mana masyarakat menerima dan menempatkan komoditas tersebut dalam susunan menu yang setara dengan beras. Secara teknis, pangan pokok lokal tersebut dapat dikembangkan menjadi produk pangan alternatif. Dengan rekayasa teknologi proses pangan dapat dilakukan perbaikan mutu produk pangan. Dengan teknologi pangan telah banyak dihasilkan produk pangan yang lebih praktis, sesuai cita rasa, bergizi, dan bergengsi. Untuk itu, maka salah satu strategi pengembangan diversifikasi pangan pokok adalah melalui peningkatan keragaman produk olahannya dengan sentuhan teknologi atau disebut dengan diversifikasi vertikal. Teknologi juga memungkinkan modifikasi produk melalui perbaikan cita rasa pangan. Dalam proses pengolahan dengan menambahkan bahan tambahan pangan akan dapat meningkatkan daya terima masyarakat. Bahan baku pangan yang rendah kandungan zat gizinya dapat diperkaya dengan menambahkan zat gizi yang defisit. Pengembangan teknologi pangan dapat dilakukan baik di tingkat rumah tangga maupun di tingkat industri sedang dan besar. Teknologi di tingkat rumah tangga akan menghasilkan produksi pangan olahan siap makan, dan siap untuk diadopsi oleh masyarakat. Untuk pangan pokok, perlu dikembangkan pangan alternatif yang berbasis tepung, yang dapat tahan lama, dapat diperkaya dengan zat gizi, fleksibel dalam pengolahannya, dan dapat dilakukan oleh industri kecil maupun besar. Strategi yang dapat dilakukan untuk pengembangan pangan pokok melalui diversifikasi vertikal antara lain: 1. Pengembangan Penyediaan Bahan Baku Pangan Alternatif Indonesia mempunyai sumber daya alam yang cukup, namun pemanfaatannya masih rendah atau bahkan terabaikan. Jenis komoditas yang belum banyak dikembangkan misalnya garut, uwi, suweg, ganyong, gembili, sorgum, juwawut, jali dan iles-iles. 2. Pengembangan Pascapanen dan Pengolahan Pangan Dengan teknologi pascapanen dan pengolahan pangan dapat mengubah dari pangan inferior menjadi superior. Misalnya, ubi kayu dan keju, talas dan keju merupakan produk industri pangan yang dapat mendukung program ketahanan pangan. Pengembangan teknologi tersebut mencakup teknologi pascapanen, termasuk penanganan bahan baku, pengolahan produk setengah jadi, dan pengolahan produk jadi. 3. Sosialisasi Produk Pangan Pokok Alternatif Dengan penyebarluasan informasi manfaat produk pangan alternatif diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk mengkonsumsi produk pangan alternatif. Pemanfaatan tepung jagung komposit pada berbagai bahan dasar pangan dapat memsubstitusi terigu hingga 60-70% pada kue dan 10-15 % pada roti dan mi, karena kandungan karbohidrat pada tepung jagung dapat mencapai 79,9 % (Antarlina, 1993; Azman, 2000). Pada pembuatan grit jagung terdapat hasil sampingan yaitu bekatul jagung yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan sumber serat kasar yang sangat berguna bagi tubuh (Richana dan Santosa, 2008). Kandungan nutrisi bahan setengah jadi jagung sangat memadai sebagai bahan pangan. Pengembangan agroindustri jagung dan aneka olahan produk pangan dari jagung merupakan pendekatan yang prospektif untuk meningkatkan nilai tambah jagung, dan dapat mencukupi kebutuhan bahan berkarbohidrat nasional, sehingga pada gilirannya dapat mengurangi impor terigu. Ubi kayu merupakan salah satu sumber karbohidrat dan menduduki urutan ketiga terbesar setelah beras dan jagung. Namun ubi kayu mempunyai kelemahan antara lain: (1) kadar air ubi kayu segar cukup tinggi, yaitu sekitar 60% (Tabel 3) sehingga cepat rusak; (2) mengandung HCN yang dapat menjadi toksin bila dikonsumsi; (3) mengandung enzim phenolase yang dapat menyebabkan warna coklat; (4) karakteristik pati ubi kayu tidak mengandung gluten sehingga tidak mudah mengembang dan tekstur produknya lebih keras dibandingkan dengan tepung terigu; (5) aroma khas ubi kayu masih terasa sampai menjadi produk olahan pangan. Teknologi ubi kayu pada umumnya masih sederhana (bersifat tradisional). Teknologi untuk merubah karakteristik tepung dan pati ubi kayu dapat dilakukan dengan memodifikasi sifat pati baik secara kimiawi, secara fisik, maupun secara biologi. Tepung dan pati ubi kayu mempunyai potensi untuk dikembangkan sebagai komoditas komersial. BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan Dengan melihat penjelasan dari awal hingga akhir, kami dapat mengambil beberapa kesimpulan sebagai berikut :  Bahan pangan lokal memiliki banyak produk turunan sehingga memiliki potensi yang baik untuk dikembangkan.  Faktor penghambat yang sering kali dijumpai pada saat penggunaan teknologi adalah modal dan juga sumber daya manusia yang mengelola teknologi tersebut.  Kontribusi teknologi dalam ketahanan pangan dapat dilihat dengan diberlakukannya diversifikasi pangan yang mendorong orang menciptakan teknologi pangan alternatif pangganti beras. 3.2 Saran  Bagi para pengusaha agar jeli dalam memanfaatkan produk unggulan lokal yang prospek pengembangannya cukup menjanjikan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: