LAPORAN PRAKTIKUM EKONOMI PERTANIAN
DI SUSUN
O
L
E
H
KELOMPOK II :
HARRY F. UMAMIT
M. DELVY ANDRIE EDYSON
MUHAMMAD N. SUNETH
DENNY R. ULATE
FEBRI B. RIMPA
ERVI E. CH. DOMLAY
SALLY MONTONGLAYUK
EVALINA KATIPANA
MISWANTI KILKODA
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS PATTIMURA
AMBON
2013
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkah dan karunia-Nya kami dapat menyelesaikan laporan ini. Tidak lupa kami mengucapkan terima kasih kepada :
ü Tim dosen pengasuh praktikum Ekonomi Pertanian yang sudah mendampingi kami dalam kegiatan praktikum di lapangan.
ü Teman-teman yang selalu memberikan dukungan baik moril maupun materil.
ü Serta semua pihak yang membantu kami dalam menyelesaikan penulisan ini.
Semoga kita semua selalu mendapatkan rahmat dari Tuhan Yang Maha Esa. Kami menyadari bahwa penulisan ini masih jauh dari apa yang diharapkan. Kritik dan saran para pembaca dapat membantu kami untuk mengembagkan materi ini.
Ambon, 16 Januari 2013
Penyusun
DAFTAR ISI
Kata Pengantar
Daftar Isi
Praktikum I (Produksi dan Biaya Produk Pertanian)
Praktikum II (Penawaran Produk Pertanian)
Praktikum III (Preferensi Produk Pertanian)
Praktikum IV (Permintaan Produk Pertanian)
Praktikum V (Pasar dan Penetapan Harga)
Daftar Pustaka
Lampiran I
Lampiran II
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam melakukan usaha pertanian, seorang pengusaha atau katakanlah seorang petani akan selalu berpikir bagaimana ia mengalokasikan input seefisien mungkin untuk dapat memperoleh produksi yang maksimal. Cara pemikiran yang demikian adalah wajar mengingat petani melakukan konsep bagaimana memaksimumkan keuntungan. Di lain pihak, manakala petani dihadapkan pada keterbatasan biaya dalam melakukan usahataninya, maka mereka juga tetap mencoba bagaimana meningkatkan keuntungan tersebut dengan kendala biaya usaha tani yang terbatas. Suatu tindakan yang dapat dilakukan adalah bagaimana memperoleh keuntungan yang lebih besar dengan menekan biaya produksi sekecil-kecilnya.
Kegiatan produksi pertaian merupakan salah satu kegiatan produksi yang sangat bergantung pada kondisi lingkungan (cuaca/iklim) dan dibatasi oleh proses biologis tanaman. Hal ini tentunya memberikan dampak terhadap fluktuasi produksi sektor pertanian karena apabila kondisi lingkungan yang mendukung perumbuhan tanaman, akan berpengaruh pada peningkatan produksi, tetapi jika kondisi lingkungan tidak mendukung hal ini berdampak pada penurunan hasil produksi.
Implikasi dari hal di atas adalah rentannya proses produksi pertanian terhadap kerusakan (deterioration). Kondisi inilah yang menyebabkan posisi tawar petani dalam memasarkan produksinya sangat lemah sekaligus menghadapi resiko dan ketidakpastian (risk and uncertainty) yang besar berkaitan dengan proses produksi.
1.2 Permasalahan
Masalah yang dihadapi oleh petani umumnya adalah cuaca yang kurang baik sehingga meningkatnya perkembangan hama yang berakibat pada penurunan produksi.
1.3 Tujuan Praktikum
Praktikum ini bertujuan untuk :
- Menganalisis produksi usahatani dalam satu tahun berdasarkan pola tanam, peluang dan kendalanya.
- Menganalisis biaya usahatani, baik biaya tetap dan biaya variabel.
- Menganalisis keuntungan usahatani dalam satu tahun berdasarkan pola tanam yang dilakukan.
BAB II
METODE PRAKTIKUM
2.1 Lokasi dan Waktu
Praktikum ini dilaksanakan di Desa Nania tanggal 12 Januari 2013. Dimulai dari jam 11.30-selesai.
2.2 Metode Praktikum
Ü Survey
Survey dilakukan dilakukan untuk kelompok komoditas :
ü Tanaman pangan (5 petani)
ü Tanaman hortikultura (5 petani)
Survey berkaitan dengan penggalian data primer dengan menggunakan instrumen berupa kuisioner yang disusun tim pembina praktikum.
Ü Sample
Sampel dipilih secara acak dari beberapa petani yang ada di Desa Nania, terdiri dari petani di Nania Bawah dan petani di Air Salak.
2.3 Teknik Analisis
Rumus Biaya
Biaya total = biaya tetap + biaya variabel
Rumus Penerimaan
Penerimaan = jumlah produksi × harga
Rumus Keuntungan
Keuntungan = penerimaan – biaya total
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
- 1. Produksi Usahatani Berdasarkan Pola Tanam dalam Satu Tahun
Berdasarkan hasil survey lapangan, rata-rata pola tanam petani hortikultura Desa Nania adalah pergiliran tanaman, dimana setelah satu komoditi selasai panen dilanjutkan dengan jenis komoditi yang lain. Rata-rata produksi yang dihasilkan selama satu tahun yaitu :
ü Kangkung 1800-2000 ikat/tahun
ü Sawi 2400-2600 ikat/tahun
ü Bayam 1200-1500 ikat/tahun
Dari hasil yang diperoleh diatas, menurut petani setempat hasil tersebut bisa ditingkatkan manakala permintaan akan sayur-sayuran dipasaran meningkat serta didukung oleh kondisi cuaca/iklim yang baik. Peluang peningkatan produksi bisa dicapai sekitar 15% atau sekitar 225 ikat/tanaman.
Namun hal ini sulit tercapai karena akhir-akhir ini kondisi cuaca mulai berubah, sehingga produksi petani umumnya berkurang sekitar 10% atau sekitar 120 ikat/tanaman. Hal ini disebabkan karena peningkatan populasi hama dan penyakit yang berkembang pada kondisi lembab.
Untuk komoditi pangan, responden yang kami temui adalah petani subsisten yang berusahatani hanya untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.
- 2. Biaya Usahatani
Biaya tetap dalam proses produksi komoditi hortikultura adalah Rp 2.000.000,00 (biaya sewa lahan).
Untuk komoditi tanaman pangan (singkong), umumnya petani hanya membeli lahan dengan biaya Rp. 500.000,00 untuk lahan 1 Ha yang dibelinya sejak tahun 1999.
Biaya variabel dari komoditi tanaman pangan tidak ada, karena umumnya bibit yang didapatkan hanya diminta dari petani lain sehingga ia tidak lagi mengeluarkan biaya untuk pembelian bibit. Sedangkan biaya pestisida dan pupuk tidak ia gunakan dalam kegiatan produksi tanaman pangan.
Biaya-biaya yang dikeluarkan para petani di desa Nania selama proses produksi komoditi hortikultura adalah sebagai berikut :
|
Biaya
|
Jumlah Biaya (Rp)
|
- Bibit
|
30.000-50.000/Kg |
- Peralatan
|
125.000 |
- Obat-obatan
|
60.000-80.000 |
- Pupuk
|
90.000-100.000/Kg |
- Pengairan
|
100.000/bulan |
Selama proses produksi, petani tidak menggunakan tenaga kerja luar dengan alasan agar pengeluaran mereka tidak banyak. Mereka hanya mengandalkan tenaga sendiri, kalaupun butuh tenaga kerja tamabahan mereka saling membantu satu sama lain, sehingga pekerjaan mereka cepat terselesaikan.
- 3. Keuntungan Usahatani
Keuntungan yang diperoleh dari petani komoditi pangan (singkong) hanya sekitar Rp 500.000,00/panen (8 bulan), biaya ini biasanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga saja, bukan digunakan sebagai modal pada periode produksi berikutnya.
Sedangkan keuntungan yang diperoleh petani tanaman hortikultura adalah sebagai berikut :
Kangkung
Dengan asumsi produksi rata-rata/tahun adalah 1.800 ikat denga harga Rp 3.000,00/ikat maka keuntungan petani adalah :
Pendapatan : 1800 × 3000 = 5.400.000/tahun
Sawi
Dengan asumsi produksi rata-rata/tahun adalah 2.400 ikat denga harga Rp 4.000,00/ikat maka keuntungan petani adalah :
Pendapatan : 2.400 × 4000 = 9.600.000/tahun
Bayam
Dengan asumsi produksi rata-rata/tahun adalah 1.200 ikat denga harga Rp 1.000,00/ikat maka keuntungan petani adalah :
Pendapatan : 1.200 × 1000 = 1.200.000/tahun
Jadi total penerimaan petani selama 1 tahun untuk produksi tanaman hortikultura (kangkung, sawi dan bayam) adalah Rp 16.200.000,00
Sehingga penerimaan petani dalam setahun adalah :
16.200.000 – 2.000.000 (biaya sewa lahan) – 3.770.000 (biaya yang dikeluarkan selama proses produksi) = 10.430.000/tahun
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan
Berdasarkan penjelasan di atas, kami dapat mengambil beberapa kesimpulan sebagai berikut :
ü Produksi hasil usahatani umunya sangat tergantung pada kondisi cuaca/iklim.
ü Biaya yang dikeluarkan petani tanaman pangan relatif lebih kecil dibandingkan dengan petani tanaman hortikultura.
ü Meski pengeluaran petani tanaman hortikultura relatif lebih besar, akan tetapi keuntunganny relatif lebih besar dari petani komoditi pangan (singkong).
4.2 Saran
ü Bagi petani yang masih bersifat subsiten dalam mengolah lahannya, agar dapat beralih pada pertanian komersil guna dapat meningkatkan taraf hidup yang lebih baik.
ü Tetaplah berusaha jika suatu saat terhalang masalah, karena kesuksesan hanya datang dari orang yang giat bekerja dan pantang menyerah.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Penawaran produk pertanian dipengaruhi oleh harga komoditas pertanian itu sendiri, teknologi produksi, ketersediaan dan keterjangkauan input produksi dan juga aspek manajemen dalam manajemen proses produksi usahataninya. Berkaitan dengan proses produksi yang sangat bergantung pada musim dan juga proses biologis tanaman, maka berimplikasi pada melimpahnya komoditas pertanian pada suatu musim dan kelangkaan pada waktu yang lain.
Hal di atas menyebabkan berlakunya mekanisme pasar sehingga harga cenderung turun drastis pada saat musim panen dan menigkat pada musim paceklik.
1.2 Permasalahan
Masalah yang dihadapi oleh petani dalam menawarkan produknya adalah persaingan antara komoditi lokal dan impor yang berimplikasi pada kesenjangan harga antar komoditas.
1.3 Tujuan Praktikum
Praktikum ini bertujuan untuk :
- Menganalisis karakteristik produk pertanian berdasarkan kualitas, kuantitas produksi, harga komoditas serta manajemen pemasaran atas produk pertanian.
- Menganalisis perubahan harga komoditas antar waktu.
- Menganalisis perubahan teknologi yang terjadi selama proses produksi yang dilaksanakan.
BAB II
METODE PRAKTIKUM
2.1 Lokasi dan Waktu
Praktikum ini dilaksanakan di Desa Nania tanggal 12 Januari 2013. Dimulai dari jam 11.30-selesai.
2.2 Metode Praktikum
Ü Survey
Survey dilakukan dilakukan untuk kelompok komoditas :
ü Tanaman pangan (5 petani)
ü Tanaman hortikultura (5 petani)
Survey berkaitan dengan penggalian data primer dengan menggunakan instrumen berupa kuisioner yang disusun tim pembina praktikum.
Ü Sample
Sampel dipilih secara acak dari beberapa petani yang ada di Desa Nania, terdiri dari petani di Nania Bawah dan petani di Air Salak.
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
- 1. Karakteristik Produk Pertanian Berdasarkan Kualitas, Kuantitas Produksi, Harga Komoditas serta Manajemen Pemasaran Produk Pertanian
Dari segi kualitas, produk pertanian umumnya hanya dapat bertahan < 1 minggu sehingga butuh suatu usaha yang dapat menjaga kualitas dari produk pertanian tersebut. Seperti penyimpanan pada suhu tertentu sehingga penguapan tidak terlalu cepat.
Dari segi kuantitas, produk pertanian umumnya menghasilkan jumlah produk yan cukup banyak dibandingkan dengan produk non pertanian. Sehingga akan sangat rentan jika produk tersebut dipasarkan pada saat musim panen, hal ini berpengaruh pada harga yang akan diterima oleh petani yang relatif lebih kecil dibandingkan dengan pada saat produk tersebut sedikit diproduksikan.
Pemasaran produk pertanian akan sangat baik jika saluran pemasarannya tidak terlalu panjang. Hal ini sangat berpengaruh terhadap harga yang akan diterima oleh petani, semakin panjang saluran pemasaran maka semakin kecil harga yang akan diperoleh petani.
- 2. Perubahan Harga Komoditas
Harga komoditas pertanian umumnya sangat bergantung pada kondisi lingkungan (cuaca/iklim). Semakin lembab kondisi lingkungan, semakin menurun produk yang dihasilkan khususnya bagi tanaman non aquatic. Hal ini sangat dirasakan pada saat musim hujan yang berlangsung cukup lama, harga komoditas tanaman hortikultura umumnya sangat mahal dibandingkan dengan komoditas lainnya.
Berdasarkan hasil wawancara umumnya petani banyak menerima pesanan pada musim penghujan, karena harga komoditi akan meningkat dibandingkan diluar musim penghujan. Harga komoditas hortikultura pada musim penghujan berkisar pada Rp 2.000,00-7.000,00/ikat, tegantung dari jenis komoditi yang diusahakan. Diluar musim penghujan harga komoditi tanaman hortikultura bekisar Rp. 1.000,00-5.000,00/ikat.
- 3. Perubahan Teknologi Selama Proses Produksi
Tidak ada teknologi yang sangat modern yang kami temui pada petani komoditi tanaman pangan dan horikultur. Hal ini disebabkan karena petani masih bergantung pada modal yang dimiliki sehingga membatasi petani untuk menggunakan peralatan yang sangat modern. Selain itu, alat-alat yang dibutuhkan pun masih belum tersedia untuk memenuhi kebutuhan petani. Alat yang menurut kami cukup modern yang digunakan oleh petani tanaman hortikultura adalah hand tracktor. Selebihnya masih sederhana sesuai dengan pengalaman petani.
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan
Berdasarkan penjelasan di atas, kami dapat mengambil beberapa kesimpulan sebagai berikut :
ü Penawaran komoditas pertnian yang bergantung pada kondisi ligkungan (cuaca//iklim).
ü Implikasi dari hal di atas adalah penawaran produk yang akan melimpah pada musim panen dan berkurang pada kondisi diluar musim panen.
ü Semakin tinggi teknologi yang digunakan, semakin banyak produk yang ditawarkan oleh produsen.
4.2 Saran
ü Petani harus dapat memprediksi musim tanam efektif yang dapat digunakan untuk mengefisienkan input pertanian guna memperoleh keuntungan yang optimal.
ü Penggunaan teknologi harus ddisesuaikan dengan kebutuhan agar teknologi tersebut tepat guna.
BAB I
PENDAHULUAN
1.3 Latar Belakang
Preferensi konsumen merupakan indikator permintaan pasar terhadap produk pertanian. Faktorr tersebut harus menjadi pertimbangan bagi petani produsen dalam menentukan jenis komoditi yang akan diproduksi. Misalkan saja berbagai jenis sayuran bisa diusahakan oleh petani sesuai dengan agroekosistemnya, namun selera pasar tidak diketahui dan tidak pasti. Oleh karena itu perlu dilakukan pengkajian untuk mengevaluasi selera konsumen, agar dapat diketahui jenis sayuran atau komoditi lain yang palig disukai oleh sebagian besar konsumen dan skala prioritasnya. Di samping itu, petani produsen juga akan mempunyai kriteria dalam menentukan pilihan usahataninya. Meskipun permintaan terhadap suatu komoditas tinggi, tetapi jika resiko dan kebutuhan terhadap investasi atau biaya produksi besar belum tentu petani akan mengusahakan komoditi tersebut.
Perencanaan usahatani secara umum membutuhkan informasi tentang selera pasar dan keinginan serta kemampuan petani produsen mengusahakannya. Seiring dengan informassi pasar tidak tersedia, akibatnya permitaan terhadap suatu jenis komoditas yang disukai konsumen tidak terpenuhi. Dampak lebih jauh adalah terjadi fluktuasi harga yang tinggi.
1.4 Permasalahan
Masalah yang dihadapi oleh produk pertanian domestik adalah persaingan dengan produk impor yang memiliki positioning yang lebih baik.
1.3 Tujuan Praktikum
Praktikum ini bertujuan untuk :
- Mengetahui atribut fisik, rasa, warna dan harga dari produk pertanian lokal dan impor.
- Menganalisis elastisitas pendapatan dari komoditas pertanian.
BAB II
METODE PRAKTIKUM
2.1 Lokasi dan Waktu
Praktikum ini dilaksanakan di Pasar Lama Kota Ambon dan Foodmart Ambon Plaza tanggal 13 Januari 2013. Dimulai dari jam 11.30-selesai.
2.2 Metode Praktikum
Ü Survey
Survey dilakukan dilakukan untuk kelompok komoditas :
ü Tanaman pangan (5 konsumen)
ü Tanaman hortikultura (5 konsumen)
Survey berkaitan dengan penggalian data primer dengan menggunakan instrumen berupa kuisioner yang disusun tim pembina praktikum.
Ü Sample
Sampel dipilih secara acak dari beberapa konsumen yang ditemui di Pasar Lama Kota Ambon dan Foodmart Ambon Plaza.
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
- 1. Atribut Fisik, Rasa, Warna dan Harga dari Produk Pertanian Lokal dan Impor
Umumnya kondisi fisik dan warna produk lokal pada pasar tradisional tidak terlihat begitu menarik dan segar dibandingkan dengan produk yang berada di pasar modern. Hal ini dipengaruhi oleh tempat penyimpanan produk pertanian yang jauh berbeda antara kedua pasar. Seperti tampak pada gambar berikut.
Selain itu, kondisi tempat terlihat sangat berbeda antara kedua pasar dan kemasan produk yang berbeda pula. Di pasar tradisional produk yang dijual ditumpuk begitu saja, tetapi di pasar modern produl di kemas dalam bentuk yang hygienis sehingga membuat orang tertarik untuk membelinya.
Dari segi harga, umumnya pasar lokal menyediakan harga yang dapat dijangkau oleh semua kalangan konsumen dibandingakan dengan pasar modern. Seperti yang kita temui harga bayam/ikat di pasar tradisional berkisar Rp 2.000,00-3.00,000 sedangkan di pasar modern umumnya berkisar Rp. 6.000,00.
Produk pertanian lokal umumnya memiliki harga dibawah produk impor. Hal ini dipengaruhi oleh kualitas dari masing-masing komoditi. Konsumen menyukai produk yang berkualitas baik meski harganya relatif mahal.
- 2. Elastisitas Pendapatan dari Komoditas Pertanian
Dari hasil pengamatan kami bahwa tingkat pendapatan mempengaruhi jumlah barang yang dikonsumsi seperti tampak pada tabel berikut.
Tabel konsumsi konsumen akibat perubahan pendapatan terhadap komoditi sayuran
|
Pendapatan (M)
|
Jumlah X (ikat/minggu)
|
ΔM
|
ΔX
|
|
500.000
|
5
|
750.000
|
7
|
|
1.200.000
|
7
|
1.500.000
|
10
|
|
1.700.000
|
10
|
2.000.000
|
13
|
|
2.000.000
|
11
|
2.500.000
|
14
|
|
2.500.000
|
12
|
3.450.000
|
16
|
Kita akan menganalisis elatisitas pendapatan terhadap komoditi sayuran dengan pendapatan Rp. 500.000,00
(Q2 – Q1) / (Q2 + Q1) / (Y2 – Y1) / (Y2 + Y1)
Eᵧ = (7-5) / (7+5) / (750.000-500.000) / (750.000+500.000)
= 0,17 / 0,2 = 0,85
Jadi, tanaman sayuran merupakan barang kebutuhan pokok karena nilainya berada diantar 0 dan 1.
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan
Berdasarkan penjelasan di atas, kami dapat mengambil beberapa kesimpulan sebagai berikut :
ü Atribut fisik, rasa, warna dan harga dari produk pertanian lokal dan impor sangat jauh berbeda.
ü Tingkat pendapatan mempengaruhi jumlah barang yang akan dikonsumsi.
4.2 Saran
ü Pemerintah harus mengurangi kuota produk impor guna menjaga agar tidak terciptanya kesenjangan harga antara produk lokal dan impor.
ü Petani harus membaca peluang akan komoditi yang banyak diminati oleh konsumen sehingga ia dapat menghasilkan produk sesuai dengan permintaan pasar.
BAB I
PENDAHULUAN
1.5 Latar Belakang
Permintaan suatu komoditi pertanian adalah banyaknya komoditi pertanian yang dibutuhkan dan dibeli oleh konsumen. Karena itu besar kecilnya komoditi pertanian umumnya dipengauhi oleh harga produk itu sendiri, tingkat pedapatan, selera masyarakat, termasuk juga harga barang substitusi dan komplementernya.
Di lain pihak Winardi (1976) menyatakan bahwa pengertian permintaan adalah jumlah barang yang sanggup dibeli oleh para pembeli pada tempat dan waktu tertentu dengan harga yang berlaku saat itu. Sedangkan menurut Bishop dan Toussaint (1958), pengertiaan permintaan dipergunakan untuk mengetahui hubungan jumlah barang yang dibeli oleh konsumen dengan harga alternatif untuk membeli barang yang bersangkutan dengan anggapan bahwa harga barang lainnya tetap. Hal ini dapat dijelaskan dengan kurva permintaan, yaitu kurva yang menunjukkan hubungan antara jumlah maksimum dari barang yang dibeli oleh konsumen dengan harga alternatif pada waktu tertentu.
1.6 Permasalahan
Masalah yang dihadapi oleh kosumen dalam pada saat terjadi kenaikan harga, maka jumlah produk yang ingin diminta berkurang dan bagi produsen ia akan membatasi jumlah produksinya guna mengurangi tambahan biaya produksi.
1.3 Tujuan Praktikum
Praktikum ini bertujuan untuk :
- Menganalisis tingkat elastisitas harga terhadap permintaan.
- Menganalisis dampak dari penurunan harga terhadap permintaan dan penerimaan produsen.
BAB II
METODE PRAKTIKUM
2.1 Lokasi dan Waktu
Praktikum ini dilaksanakan di Pasar Lama Kota Ambon dan Foodmart Ambon Plaza tanggal 13 Januari 2013. Dimulai dari jam 11.30-selesai.
2.2 Metode Praktikum
Ü Survey
Survey dilakukan dilakukan untuk kelompok komoditas :
ü Tanaman pangan (5 konsumen)
ü Tanaman hortikultura (5 konsumen)
Survey berkaitan dengan penggalian data primer dengan menggunakan instrumen berupa kuisioner yang disusun tim pembina praktikum.
Ü Sample
Sampel dipilih secara acak dari beberapa konsumen yang ditemui di Pasar Lama Kota Ambon dan Foodmart Ambon Plaza.
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
- 1. Tingkat Elastisitas Harga terhadap Permintaan
Berikut adalah skedul permintaan konsumen pasar Lama kota Ambon terhadap komoditi sayuran.
|
Titik
|
Harga (Rp)
|
Jumlah (ikat)
|
e
|
|
A
|
6.000
|
2
|
3
|
|
B
|
5.000
|
3
|
5/3
|
|
C
|
4.000
|
4
|
1
|
|
D
|
3.000
|
5
|
3/5
|
|
E
|
2.000
|
6
|
2/6
|
Permintaan disebut elastis jika e > 1, inelastis jika e < 1 dan elastis uniter jika e = 1.
Dari data di atas, titik elastis terjadi harga Rp 5.000,00-6.000,00 dengan jumlah barang yang diminta yaitu 2 – 3 ikat.
- 2. Dampak Penurunan Harga terhadap Permintaan dan Penerimaan Produsen
Dari data di atas tampak bahwa penurunan harga berdampak pada peningkatan permintaan terhadap barang tersebut. Hal ini tentunya sangat menguntungkan kosumen daripada produsen, karena dengan turunnya harga konsumen dapat membeli produk sebanyak mungkin. Meski demikian, hal ini tidak berdampak positif bagi produsen karena penerimaannya tidak sebanding dengan pengeluarannya.
Jika hal ini terjadi, umumnya produsen mensiasati dengan mengurangi produksi sehingga barang tersebut menjadi langka yang akan memicu kenaikan harga sehingga penerimaan produsen pun meningkat.
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan
Berdasarkan penjelasan di atas, kami dapat mengambil beberapa kesimpulan sebagai berikut :
ü Tingkat elastisitas harga komoditi sayuran yang tercipta di pasar Lama Kota Ambon berkisar pada harga Rp. 5.000,00 – 6.000,00
ü Penurunan harga akan berdampak pada pengurangan produk yang akan dihasilkan oleh produsen
4.2 Saran
ü Jika terjadi kelangkaan barang, produsen haruslah menawarkan produk dengan harga yang dapat dijangkau oleh semua kalangan masyarakat.
ü Dengan adanya kerja sama yang baik antara produsen dengan konsumen maka akan tercipta lingkungan yang sejahtera.
BAB I
PENDAHULUAN
1.7 Latar Belakang
Pasar adalah keseluruhan permintaan dan penewaran barang dan jasa tertentu. Pasa sendiri terbagi kedalam 2 tipe, yaitu :
ü Pasar Konkrit, yaitu tempat berkumpulnya penjual dan pembeli untuk memperjualbelikan barang-barang yang terdapat di sana.
ü Pasar Abstrak, yaitu tempat berkumpulnya penjual dan pembeli, akan tetapi barang yang diperjualbelikan tidak ada.
Pasar terdiri dari beberapa bentuk mulai dari tingkat yang sederhana sampai ke tingkat yang lebih kompleks. Hal ini sangat terasa pada saat kita berada di pasar modern dan tradisonal.
1.8 Permasalahan
Masalah yang dihadapi oleh para pedagang pasar tradisional adalah penentuan harga yang terkadang terlalu jauh dari harga yang komoditi yang diperoleh pedagang.
1.3 Tujuan Praktikum
Praktikum ini bertujuan untuk :
- Menganalisis struktur pasar yang terbentuk pada masing-masing komoditas pada masing-masing pasar.
- Menganalisis penentuan harga yang terjadi di pasaran.
BAB II
METODE PRAKTIKUM
2.1 Lokasi dan Waktu
Praktikum ini dilaksanakan di Pasar Lama Kota Ambon dan Foodmart Ambon Plaza tanggal 13 Januari 2013. Dimulai dari jam 11.30-selesai.
2.2 Metode Praktikum
Ü Survey
Survey dilakukan dilakukan untuk kelompok komoditas :
ü Tanaman pangan (5 pedagang pasar tradisional, 1 pasar modern)
ü Tanaman hortikultura (5 pedagang pasar tradisional, 1 pasar modern)
Survey berkaitan dengan penggalian data primer dengan menggunakan instrumen berupa kuisioner yang disusun tim pembina praktikum.
Ü Sample
Sampel dipilih secara acak dari beberapa konsumen yang ditemui di Pasar Lama Kota Ambon dan Foodmart Ambon Plaza.
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
- 1. Struktur Pasar dari Masing-Masing Komoditas
Struktur pasar yang terbentuk yaitu :
Ü Pasar Persaingan Sempurna (terdapat pada Pasar Lama Kota Ambon)
Hal ini didasari pada beberapa hal berikut yang menjadi ciri pasar persaingan sempurna :
ü Terdapat penjual dan pembeli.
ü Penjual dan pembeli mengetahui betul kondisi pasar.
ü Penjual dan pembeli bebas mengambil keputusan dalam menetapkan harga.
ü Harga ditentukan dari kesepakatan antara penjual dan pembeli.
ü Barang yang diperjualbelikan bersifat homogen.
ü Terdapat banyak penjual dan pembeli dari barang yang sama.
ü Terjadinya persaingan harga.
Ü Pasar Persaingan Monopolistis (terdapat pada Foodmart Ambon Plaza)
Hal ini didasarkan pada :
ü Pasar yang memiliki banyak produsen dimana perusahaan pesaing bebas memasukan industri mereka serta mendiferensiasikan produk mereka.
ü Produsen bertindak sebagai price maker.
ü Produk yang diperjualbelikan bersifat heterogen.
- 2. Penentuan Harga di Pasaran
Di pasar Lama, harga pasar sangat ditentukan oleh kekuatan tawar menawar penjual dan pembeli hingga mencapai kata sepakat untuk barang yang diperjualbelikan. Lain halnya dengan barang-barang yang terdapat di Foodmart, umumnya harga telah ditetapkan produsen sehingga konsumen tidak dapat melakukan kegiatan tawar menawar.
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan
Berdasarkan penjelasan di atas, kami dapat mengambil beberapa kesimpulan sebagai berikut :
ü Struktur pasar sangat ditentukan oleh interaksi antara penjual dan pembeli, penentuan harga pasar serta pengambilan keputusan dalam menetapkan harga.
ü Penentuan harga sangat ditentukan oleh bentuk pasar yang bersangkutan.
4.2 Saran
ü Pembeli harus mengetahui kondisi pasar agar dapat disesuaikan dengan biaya yang dimilikinya.
ü Pemerintah harus mengambil kebijakan untuk melindungi konsumen dan produsen agar kedua bela pihak tidak merasa dirugikan.
DAFTAR PUSTAKA
Salvatore, Dominick. 1982. Teori Mikroekonomi Edisi Kedua. Erlangga: Jakarta
Soekartawi. 2002. Prinsip Dasar Ekonomi Pertanian: Teori dan Aplikasi. PT RajaGrafindo Persada: Jakarta
Lampiran I (Karakteristik Responden dan Profil Usahatani)
Nama : Rasid
Umur : 50 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Pendidikan Terakhir : –
Pekerjaa : a. Utama : Petani
b. Sampingan : –
Jumlah anggota keluarga : 5 orang
Lama bekerja : 2 tahun
Alasan bekerja : tidak ada pilihan lain
Jenis komoditi yang diusahakan : Sawi, Kangkung dan Bayam
Pola tanam : tumpang sari
Nama : Hasma
Umur : 22 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Pendidikan Terakhir : SD
Pekerjaa : a. Utama : Petani
b. Sampingan : –
Jumlah anggota keluarga : 3 orang
Lama bekerja : 6 bulan
Alasan bekerja : tidak ada pilihan lain
Jenis komoditi yang diusahakan : Sawi, Kangkung dan Bayam
Pola tanam : tumpang gilir
Nama : Mail
Umur : 24 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Pendidikan Terakhir : SD
Pekerjaa : a. Utama : Petani
b. Sampingan : –
Jumlah anggota keluarga : –
Lama bekerja : 4 tahun
Alasan bekerja : sebagai sumber pendapatan utama/sampingan bagi keluarga
Jenis komoditi yang diusahakan : Kangkung, Sawi, dan Bayam
Pola tanam : tumpang gilir
Nama : Arsudi
Umur : 60 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Pendidikan Terakhir : SD
Pekerjaa : a. Utama : Petani
b. Sampingan : –
Jumlah anggota keluarga : 6 orang
Lama bekerja : 7 tahun
Alasan bekerja : sebagai sumber pendapatan utama/sampingan bagi keluarga
Jenis komoditi yang diusahakan : Sawi, Kangkung dan Bayam
Pola tanam : Tumpang gilir
Nama : Udin
Umur : 35 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Pendidikan Terakhir : SD
Pekerjaa : a. Utama : Petani
b. Sampingan : –
Jumlah anggota keluarga : 4 orang
Lama bekerja : 2 tahun
Alasan bekerja : tidak ada pilihan pekerjaan yang lain
Jenis komoditi yang diusahakan : Kangkung, Sawi dan Bayam
Pola tanam : Tumpang gilir
Nama : Ical
Umur : 33 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Pendidikan Terakhir : SD
Pekerjaa : a. Utama : Petani
b. Sampingan : Penjual sayur
Jumlah anggota keluarga : 4 orang
Lama bekerja : 3 tahun
Alasan bekerja : sebagai sumber pendapatan utama/sampingan bagi keluarga
Jenis komoditi yang diusahakan : Singkong
Pola tanam : 8 bulan/sekali panen
Lampiran II (Dokumentasi Lapangan)
Lokasi : Nania Bawah
Lokasi : Pasar Lama Ambon
Lokasi : Foodmart Ambon Plaza
Read the rest of this entry →