Published June 17, 2013 by harryfadlyumamit

 

LAPORAN PRAKTIKUM EKONOMI PERTANIAN

DI SUSUN

O

L

E

H

KELOMPOK II :


HARRY F. UMAMIT

M. DELVY ANDRIE EDYSON

MUHAMMAD N. SUNETH

DENNY R. ULATE

FEBRI B. RIMPA

ERVI E. CH. DOMLAY

SALLY MONTONGLAYUK

EVALINA KATIPANA

MISWANTI KILKODA

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS PATTIMURA

AMBON

2013

 

 

KATA PENGANTAR

            Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkah dan karunia-Nya kami dapat menyelesaikan laporan ini. Tidak lupa kami mengucapkan terima kasih kepada :

ü  Tim dosen pengasuh praktikum Ekonomi Pertanian yang sudah mendampingi kami dalam kegiatan praktikum di lapangan.

ü  Teman-teman yang selalu memberikan dukungan baik moril maupun materil.

ü  Serta semua pihak yang membantu kami dalam menyelesaikan penulisan ini.

Semoga kita semua selalu mendapatkan rahmat dari Tuhan Yang Maha Esa. Kami menyadari bahwa penulisan ini masih jauh dari apa yang diharapkan. Kritik dan saran para pembaca dapat membantu kami untuk mengembagkan materi ini.

Ambon, 16 Januari 2013

Penyusun Read the rest of this entry →

Published May 19, 2013 by harryfadlyumamit

 

LAPORAN PRAKTIKUM EKONOMI PERTANIAN

DI SUSUN

O

L

E

H

KELOMPOK II :


HARRY F. UMAMIT

M. DELVY ANDRIE EDYSON

MUHAMMAD N. SUNETH

DENNY R. ULATE

FEBRI B. RIMPA

ERVI E. CH. DOMLAY

SALLY MONTONGLAYUK

EVALINA KATIPANA

MISWANTI KILKODA

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS PATTIMURA

AMBON

2013

 

 

KATA PENGANTAR

            Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkah dan karunia-Nya kami dapat menyelesaikan laporan ini. Tidak lupa kami mengucapkan terima kasih kepada :

ü  Tim dosen pengasuh praktikum Ekonomi Pertanian yang sudah mendampingi kami dalam kegiatan praktikum di lapangan.

ü  Teman-teman yang selalu memberikan dukungan baik moril maupun materil.

ü  Serta semua pihak yang membantu kami dalam menyelesaikan penulisan ini.

Semoga kita semua selalu mendapatkan rahmat dari Tuhan Yang Maha Esa. Kami menyadari bahwa penulisan ini masih jauh dari apa yang diharapkan. Kritik dan saran para pembaca dapat membantu kami untuk mengembagkan materi ini.

Ambon, 16 Januari 2013

Penyusun

DAFTAR ISI

Kata Pengantar

Daftar Isi

Praktikum I (Produksi dan Biaya Produk Pertanian)

Praktikum II (Penawaran Produk Pertanian)

Praktikum III (Preferensi Produk Pertanian)

Praktikum IV (Permintaan Produk Pertanian)

Praktikum V (Pasar dan Penetapan Harga)

Daftar Pustaka

Lampiran I

Lampiran II

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Dalam melakukan usaha pertanian, seorang pengusaha atau katakanlah seorang petani akan selalu berpikir bagaimana ia mengalokasikan input seefisien mungkin untuk dapat memperoleh produksi yang maksimal. Cara pemikiran yang demikian adalah wajar mengingat petani melakukan konsep bagaimana memaksimumkan keuntungan. Di lain pihak, manakala petani dihadapkan pada keterbatasan biaya dalam melakukan usahataninya, maka mereka juga tetap mencoba bagaimana meningkatkan keuntungan tersebut dengan kendala biaya usaha tani yang terbatas. Suatu tindakan yang dapat dilakukan adalah bagaimana memperoleh keuntungan yang lebih besar dengan menekan biaya produksi sekecil-kecilnya.

Kegiatan produksi pertaian merupakan salah satu kegiatan produksi yang sangat bergantung pada kondisi lingkungan (cuaca/iklim) dan dibatasi oleh proses biologis tanaman. Hal ini tentunya memberikan dampak terhadap fluktuasi produksi sektor pertanian karena apabila kondisi lingkungan yang mendukung perumbuhan tanaman, akan berpengaruh pada peningkatan produksi, tetapi jika kondisi lingkungan tidak mendukung hal ini berdampak pada penurunan hasil produksi.

Implikasi dari hal di atas adalah rentannya proses produksi pertanian terhadap kerusakan (deterioration). Kondisi inilah yang menyebabkan posisi tawar petani dalam memasarkan produksinya sangat lemah sekaligus menghadapi resiko dan ketidakpastian (risk and uncertainty) yang besar berkaitan dengan proses produksi.

1.2  Permasalahan

Masalah yang dihadapi oleh petani umumnya adalah cuaca yang kurang baik sehingga meningkatnya perkembangan hama yang berakibat pada penurunan produksi.

1.3 Tujuan Praktikum

Praktikum ini bertujuan untuk :

  1. Menganalisis produksi usahatani dalam satu tahun berdasarkan pola tanam, peluang dan kendalanya.
  2. Menganalisis biaya usahatani, baik biaya tetap dan biaya variabel.
  3. Menganalisis keuntungan usahatani dalam satu tahun berdasarkan pola tanam yang dilakukan.

BAB II

METODE PRAKTIKUM

 

2.1 Lokasi dan Waktu

Praktikum ini dilaksanakan di Desa Nania tanggal 12 Januari 2013. Dimulai dari jam 11.30-selesai.

2.2 Metode Praktikum

Ü  Survey

Survey dilakukan dilakukan untuk kelompok komoditas :

ü  Tanaman pangan (5 petani)

ü  Tanaman hortikultura (5 petani)

Survey berkaitan dengan penggalian data primer dengan menggunakan instrumen berupa kuisioner yang disusun tim pembina praktikum.

Ü  Sample

Sampel dipilih secara acak dari beberapa petani yang ada di Desa Nania, terdiri dari petani di Nania Bawah dan petani di Air Salak.

2.3 Teknik Analisis

Rumus Biaya

Biaya total = biaya tetap + biaya variabel

Rumus Penerimaan

Penerimaan = jumlah produksi × harga

Rumus Keuntungan

Keuntungan = penerimaan – biaya total

BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

  1. 1.      Produksi Usahatani Berdasarkan Pola Tanam dalam Satu Tahun

Berdasarkan hasil survey lapangan, rata-rata pola tanam petani hortikultura Desa Nania adalah pergiliran tanaman, dimana setelah satu komoditi selasai panen dilanjutkan dengan jenis komoditi yang lain. Rata-rata produksi yang dihasilkan selama satu tahun yaitu :

ü  Kangkung         1800-2000 ikat/tahun

ü  Sawi                 2400-2600 ikat/tahun

ü  Bayam              1200-1500 ikat/tahun

Dari hasil yang diperoleh diatas, menurut petani setempat hasil tersebut bisa ditingkatkan manakala permintaan akan sayur-sayuran dipasaran meningkat serta didukung oleh kondisi cuaca/iklim yang baik. Peluang peningkatan produksi bisa dicapai sekitar 15% atau sekitar 225 ikat/tanaman.

Namun hal ini sulit tercapai karena akhir-akhir ini kondisi cuaca mulai berubah, sehingga produksi petani umumnya berkurang sekitar 10% atau sekitar 120 ikat/tanaman. Hal ini disebabkan karena peningkatan  populasi hama dan penyakit yang berkembang pada kondisi lembab.

Untuk komoditi pangan, responden yang kami temui adalah petani subsisten yang berusahatani hanya untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

  1. 2.      Biaya Usahatani
  • Biaya Tetap

Biaya tetap dalam proses produksi komoditi hortikultura adalah Rp 2.000.000,00 (biaya sewa lahan).

Untuk komoditi tanaman pangan (singkong), umumnya petani hanya membeli lahan dengan biaya Rp. 500.000,00 untuk lahan 1 Ha yang dibelinya sejak tahun 1999.

  • Biaya Variabel

Biaya variabel dari komoditi tanaman pangan tidak ada, karena umumnya bibit yang didapatkan hanya diminta dari petani lain sehingga ia tidak lagi mengeluarkan biaya untuk pembelian bibit. Sedangkan biaya pestisida dan pupuk tidak ia gunakan dalam kegiatan produksi tanaman pangan.

Biaya-biaya yang dikeluarkan para petani di desa Nania selama proses produksi komoditi hortikultura adalah sebagai berikut :

Biaya

Jumlah Biaya (Rp)

  1. Bibit
30.000-50.000/Kg
  1. Peralatan
125.000
  1. Obat-obatan
60.000-80.000
  1. Pupuk
90.000-100.000/Kg
  1. Pengairan
100.000/bulan

Selama proses produksi, petani tidak menggunakan tenaga kerja luar dengan alasan agar pengeluaran mereka tidak banyak. Mereka hanya mengandalkan tenaga sendiri, kalaupun butuh tenaga kerja tamabahan mereka saling membantu satu sama lain, sehingga pekerjaan mereka cepat terselesaikan.

 

  1. 3.      Keuntungan Usahatani

Keuntungan yang diperoleh dari petani komoditi pangan (singkong) hanya sekitar Rp 500.000,00/panen (8 bulan), biaya ini biasanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga saja, bukan digunakan sebagai modal pada periode produksi berikutnya.

Sedangkan keuntungan yang diperoleh petani tanaman hortikultura adalah sebagai berikut :

Kangkung

Dengan asumsi produksi rata-rata/tahun adalah 1.800 ikat denga harga Rp 3.000,00/ikat maka keuntungan petani adalah :

Pendapatan : 1800 × 3000 = 5.400.000/tahun

Sawi

Dengan asumsi produksi rata-rata/tahun adalah 2.400 ikat denga harga Rp 4.000,00/ikat maka keuntungan petani adalah :

Pendapatan : 2.400 × 4000 = 9.600.000/tahun

Bayam

Dengan asumsi produksi rata-rata/tahun adalah 1.200 ikat denga harga Rp 1.000,00/ikat maka keuntungan petani adalah :

Pendapatan : 1.200 × 1000 = 1.200.000/tahun

Jadi total penerimaan petani selama 1 tahun untuk produksi tanaman hortikultura (kangkung, sawi dan bayam) adalah Rp 16.200.000,00

Sehingga penerimaan petani dalam setahun adalah :

16.200.000 – 2.000.000 (biaya sewa lahan) – 3.770.000 (biaya yang dikeluarkan selama proses produksi) = 10.430.000/tahun

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan

Berdasarkan penjelasan di atas, kami dapat mengambil beberapa kesimpulan sebagai berikut :

ü  Produksi hasil usahatani umunya sangat tergantung pada kondisi cuaca/iklim.

ü  Biaya yang dikeluarkan petani tanaman pangan relatif lebih kecil dibandingkan dengan petani tanaman hortikultura.

ü  Meski pengeluaran petani tanaman hortikultura relatif lebih besar, akan tetapi keuntunganny relatif lebih besar dari petani komoditi pangan (singkong).

4.2 Saran

ü  Bagi petani yang masih bersifat subsiten dalam mengolah lahannya, agar dapat beralih pada pertanian komersil guna dapat meningkatkan taraf hidup yang lebih baik.

ü  Tetaplah berusaha jika suatu saat terhalang masalah, karena kesuksesan hanya datang dari orang yang giat bekerja dan pantang menyerah.

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Penawaran produk pertanian dipengaruhi oleh harga komoditas pertanian itu sendiri, teknologi produksi, ketersediaan dan keterjangkauan input produksi dan juga aspek manajemen dalam manajemen proses produksi usahataninya. Berkaitan dengan proses produksi yang sangat bergantung pada musim dan juga proses biologis tanaman, maka berimplikasi pada melimpahnya komoditas pertanian pada suatu musim dan kelangkaan pada waktu yang lain.

Hal di atas menyebabkan berlakunya mekanisme pasar sehingga harga cenderung turun drastis pada saat musim panen dan menigkat pada musim paceklik.

1.2  Permasalahan

Masalah yang dihadapi oleh petani dalam menawarkan produknya adalah persaingan antara komoditi lokal dan impor yang berimplikasi pada kesenjangan harga antar komoditas.

1.3 Tujuan Praktikum

Praktikum ini bertujuan untuk :

  1. Menganalisis karakteristik produk pertanian berdasarkan kualitas, kuantitas produksi, harga komoditas serta manajemen pemasaran atas produk pertanian.
  2. Menganalisis perubahan harga komoditas antar waktu.
  3. Menganalisis perubahan teknologi yang terjadi selama proses produksi yang dilaksanakan.

BAB II

METODE PRAKTIKUM

2.1 Lokasi dan Waktu

Praktikum ini dilaksanakan di Desa Nania tanggal 12 Januari 2013. Dimulai dari jam 11.30-selesai.

2.2 Metode Praktikum

Ü  Survey

Survey dilakukan dilakukan untuk kelompok komoditas :

ü  Tanaman pangan (5 petani)

ü  Tanaman hortikultura (5 petani)

Survey berkaitan dengan penggalian data primer dengan menggunakan instrumen berupa kuisioner yang disusun tim pembina praktikum.

Ü  Sample

Sampel dipilih secara acak dari beberapa petani yang ada di Desa Nania, terdiri dari petani di Nania Bawah dan petani di Air Salak.

BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

  1. 1.      Karakteristik Produk Pertanian Berdasarkan Kualitas, Kuantitas Produksi, Harga Komoditas serta Manajemen Pemasaran Produk Pertanian

Dari segi kualitas, produk pertanian umumnya hanya dapat bertahan < 1 minggu sehingga butuh suatu usaha yang dapat menjaga kualitas dari produk pertanian tersebut. Seperti penyimpanan pada suhu tertentu sehingga penguapan tidak terlalu cepat.

Dari segi kuantitas, produk pertanian umumnya menghasilkan jumlah produk yan cukup banyak dibandingkan dengan produk non pertanian. Sehingga akan sangat rentan jika produk tersebut dipasarkan pada saat musim panen, hal ini berpengaruh pada harga yang akan diterima oleh petani yang relatif lebih kecil dibandingkan dengan pada saat produk tersebut sedikit diproduksikan.

Pemasaran produk pertanian akan sangat baik jika saluran pemasarannya tidak terlalu panjang. Hal ini sangat berpengaruh terhadap harga yang akan diterima oleh petani, semakin panjang saluran pemasaran maka semakin kecil harga yang akan diperoleh petani.

  1. 2.      Perubahan Harga Komoditas

Harga komoditas pertanian umumnya sangat bergantung pada kondisi lingkungan (cuaca/iklim). Semakin lembab kondisi lingkungan, semakin menurun produk yang dihasilkan khususnya bagi tanaman non aquatic. Hal ini sangat dirasakan  pada saat musim hujan yang berlangsung cukup lama, harga komoditas tanaman hortikultura umumnya sangat mahal dibandingkan dengan komoditas lainnya.

Berdasarkan hasil wawancara umumnya petani banyak menerima pesanan pada musim penghujan, karena harga komoditi akan meningkat dibandingkan diluar musim penghujan. Harga komoditas hortikultura pada musim penghujan berkisar pada Rp 2.000,00-7.000,00/ikat, tegantung dari jenis komoditi yang diusahakan. Diluar musim penghujan harga komoditi tanaman hortikultura bekisar Rp. 1.000,00-5.000,00/ikat.

  1. 3.      Perubahan Teknologi Selama Proses Produksi

Tidak ada teknologi yang sangat modern yang kami temui pada petani komoditi tanaman pangan dan horikultur. Hal ini disebabkan karena petani masih bergantung pada modal yang dimiliki sehingga membatasi petani untuk menggunakan peralatan yang sangat modern. Selain itu, alat-alat yang dibutuhkan pun masih belum tersedia untuk memenuhi kebutuhan petani. Alat yang menurut kami cukup modern yang digunakan oleh petani tanaman hortikultura adalah hand tracktor. Selebihnya masih sederhana sesuai dengan pengalaman petani.

BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan

Berdasarkan penjelasan di atas, kami dapat mengambil beberapa kesimpulan sebagai berikut :

ü  Penawaran komoditas pertnian yang bergantung pada kondisi ligkungan (cuaca//iklim).

ü  Implikasi dari hal di atas adalah penawaran produk yang akan melimpah pada musim panen dan berkurang pada kondisi diluar musim panen.

ü  Semakin tinggi teknologi yang digunakan, semakin banyak produk yang ditawarkan oleh produsen.

4.2 Saran

ü  Petani harus dapat memprediksi musim tanam efektif yang dapat digunakan untuk mengefisienkan input pertanian guna memperoleh keuntungan yang optimal.

ü  Penggunaan teknologi harus ddisesuaikan dengan kebutuhan agar teknologi tersebut tepat guna.

BAB I

PENDAHULUAN

1.3  Latar Belakang

Preferensi konsumen merupakan indikator permintaan pasar terhadap produk pertanian. Faktorr tersebut harus menjadi pertimbangan bagi petani produsen dalam menentukan jenis komoditi yang akan diproduksi. Misalkan saja berbagai jenis sayuran bisa diusahakan oleh petani sesuai dengan agroekosistemnya, namun selera pasar tidak diketahui dan tidak pasti. Oleh karena itu perlu dilakukan pengkajian untuk mengevaluasi selera konsumen, agar dapat diketahui jenis sayuran atau komoditi lain yang palig disukai oleh sebagian besar konsumen dan skala prioritasnya. Di samping itu, petani produsen juga akan mempunyai kriteria dalam menentukan pilihan usahataninya. Meskipun permintaan terhadap suatu komoditas tinggi, tetapi jika resiko dan kebutuhan terhadap investasi atau biaya produksi besar belum tentu petani akan mengusahakan komoditi tersebut.

Perencanaan usahatani secara umum membutuhkan informasi tentang selera pasar dan keinginan serta kemampuan petani produsen mengusahakannya. Seiring dengan informassi pasar tidak tersedia, akibatnya permitaan terhadap suatu jenis komoditas yang disukai konsumen tidak terpenuhi. Dampak lebih jauh adalah terjadi fluktuasi harga yang tinggi.

1.4  Permasalahan

Masalah yang dihadapi oleh produk pertanian domestik adalah persaingan dengan produk impor yang memiliki positioning yang lebih baik.

1.3 Tujuan Praktikum

Praktikum ini bertujuan untuk :

  1. Mengetahui atribut fisik, rasa, warna dan harga dari produk pertanian lokal dan impor.
  2. Menganalisis elastisitas pendapatan dari komoditas pertanian.

BAB II

METODE PRAKTIKUM

 

2.1 Lokasi dan Waktu

Praktikum ini dilaksanakan di Pasar Lama Kota Ambon dan Foodmart Ambon Plaza tanggal 13 Januari 2013. Dimulai dari jam 11.30-selesai.

2.2 Metode Praktikum

Ü  Survey

Survey dilakukan dilakukan untuk kelompok komoditas :

ü  Tanaman pangan (5 konsumen)

ü  Tanaman hortikultura (5 konsumen)

Survey berkaitan dengan penggalian data primer dengan menggunakan instrumen berupa kuisioner yang disusun tim pembina praktikum.

Ü  Sample

Sampel dipilih secara acak dari beberapa konsumen yang ditemui di Pasar Lama Kota Ambon dan Foodmart Ambon Plaza.

BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

  1. 1.      Atribut Fisik, Rasa, Warna dan Harga dari Produk Pertanian Lokal dan Impor

Umumnya kondisi fisik dan warna produk lokal pada pasar tradisional tidak terlihat begitu menarik dan segar dibandingkan dengan produk yang berada di pasar modern. Hal ini dipengaruhi oleh tempat penyimpanan produk pertanian yang jauh berbeda antara kedua pasar. Seperti tampak pada gambar berikut.

Selain itu, kondisi tempat terlihat sangat berbeda antara kedua pasar dan kemasan produk yang berbeda pula. Di pasar tradisional produk yang dijual ditumpuk begitu saja, tetapi di pasar modern produl di kemas dalam bentuk yang hygienis sehingga membuat orang tertarik untuk membelinya.

Dari segi harga, umumnya pasar lokal menyediakan harga yang dapat dijangkau oleh semua kalangan konsumen dibandingakan dengan pasar modern. Seperti yang kita temui harga bayam/ikat di pasar tradisional berkisar Rp 2.000,00-3.00,000 sedangkan di pasar modern umumnya berkisar Rp. 6.000,00.

Produk pertanian lokal umumnya memiliki harga dibawah produk impor. Hal ini dipengaruhi oleh kualitas dari masing-masing komoditi. Konsumen menyukai produk yang berkualitas baik meski harganya relatif mahal.

  1. 2.      Elastisitas Pendapatan dari Komoditas Pertanian

Dari hasil pengamatan kami bahwa tingkat pendapatan mempengaruhi jumlah barang yang dikonsumsi seperti tampak pada tabel berikut.

Tabel konsumsi konsumen akibat perubahan pendapatan terhadap komoditi sayuran

Pendapatan (M)

Jumlah X (ikat/minggu)

ΔM

ΔX

500.000

5

750.000

7

1.200.000

7

1.500.000

10

1.700.000

10

2.000.000

13

2.000.000

11

2.500.000

14

2.500.000

12

3.450.000

16

Kita akan menganalisis elatisitas pendapatan terhadap komoditi sayuran dengan pendapatan Rp. 500.000,00

(Q2 – Q1) / (Q2 + Q1) / (Y2 – Y1) / (Y2 + Y1)

Eᵧ = (7-5) / (7+5) / (750.000-500.000) / (750.000+500.000)

= 0,17 / 0,2 = 0,85

Jadi, tanaman sayuran merupakan barang kebutuhan pokok karena nilainya berada diantar 0 dan 1.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan

Berdasarkan penjelasan di atas, kami dapat mengambil beberapa kesimpulan sebagai berikut :

ü  Atribut fisik, rasa, warna dan harga dari produk pertanian lokal dan impor sangat jauh berbeda.

ü  Tingkat pendapatan mempengaruhi jumlah barang yang akan dikonsumsi.

4.2 Saran

ü  Pemerintah harus mengurangi kuota produk impor guna menjaga agar tidak terciptanya kesenjangan harga antara produk lokal dan impor.

ü  Petani harus membaca peluang akan komoditi yang banyak diminati oleh konsumen sehingga ia dapat menghasilkan produk sesuai dengan permintaan pasar.

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

1.5  Latar Belakang

Permintaan suatu komoditi pertanian adalah banyaknya komoditi pertanian yang dibutuhkan dan dibeli oleh konsumen. Karena itu besar kecilnya komoditi pertanian umumnya dipengauhi oleh harga produk itu sendiri, tingkat pedapatan, selera masyarakat, termasuk juga harga barang substitusi dan komplementernya.

Di lain pihak Winardi (1976) menyatakan bahwa pengertian permintaan adalah jumlah barang yang sanggup dibeli oleh para pembeli pada tempat dan waktu tertentu dengan harga yang berlaku saat itu. Sedangkan menurut Bishop dan Toussaint (1958), pengertiaan permintaan dipergunakan untuk mengetahui hubungan jumlah barang yang dibeli oleh konsumen dengan harga alternatif untuk membeli barang yang bersangkutan dengan anggapan bahwa harga barang lainnya tetap. Hal ini dapat dijelaskan dengan kurva permintaan, yaitu kurva yang menunjukkan hubungan antara jumlah maksimum dari barang yang dibeli oleh konsumen dengan harga alternatif pada waktu tertentu.

1.6  Permasalahan

Masalah yang dihadapi oleh kosumen dalam pada saat terjadi kenaikan harga, maka jumlah produk yang ingin diminta berkurang dan bagi produsen ia akan membatasi jumlah produksinya guna mengurangi tambahan biaya produksi.

1.3 Tujuan Praktikum

Praktikum ini bertujuan untuk :

  1. Menganalisis tingkat elastisitas harga terhadap permintaan.
  2. Menganalisis dampak dari penurunan harga terhadap permintaan dan penerimaan produsen.

 

 

BAB II

METODE PRAKTIKUM

 

2.1 Lokasi dan Waktu

Praktikum ini dilaksanakan di Pasar Lama Kota Ambon dan Foodmart Ambon Plaza tanggal 13 Januari 2013. Dimulai dari jam 11.30-selesai.

2.2 Metode Praktikum

Ü  Survey

Survey dilakukan dilakukan untuk kelompok komoditas :

ü  Tanaman pangan (5 konsumen)

ü  Tanaman hortikultura (5 konsumen)

Survey berkaitan dengan penggalian data primer dengan menggunakan instrumen berupa kuisioner yang disusun tim pembina praktikum.

Ü  Sample

Sampel dipilih secara acak dari beberapa konsumen yang ditemui di Pasar Lama Kota Ambon dan Foodmart Ambon Plaza.

BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

  1. 1.      Tingkat Elastisitas Harga terhadap Permintaan

Berikut adalah skedul permintaan konsumen pasar Lama kota Ambon terhadap komoditi sayuran.

Titik

Harga (Rp)

Jumlah (ikat)

e

A

6.000

2

3

B

5.000

3

5/3

C

4.000

4

1

D

3.000

5

3/5

E

2.000

6

2/6

Permintaan disebut elastis jika e > 1, inelastis jika e < 1 dan elastis uniter jika e = 1.

Dari data di atas, titik elastis terjadi harga Rp 5.000,00-6.000,00 dengan jumlah barang yang diminta yaitu 2 – 3 ikat.

 

  1. 2.      Dampak Penurunan Harga terhadap Permintaan dan Penerimaan Produsen

Dari data di atas tampak bahwa penurunan harga berdampak pada peningkatan permintaan terhadap barang tersebut. Hal ini tentunya sangat menguntungkan kosumen daripada produsen, karena dengan turunnya harga konsumen dapat membeli produk sebanyak mungkin. Meski demikian, hal ini tidak berdampak positif bagi produsen karena penerimaannya tidak sebanding dengan pengeluarannya.

Jika hal ini terjadi, umumnya produsen mensiasati dengan mengurangi produksi sehingga barang tersebut menjadi langka yang akan memicu kenaikan harga sehingga penerimaan produsen pun meningkat.

 

BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan

Berdasarkan penjelasan di atas, kami dapat mengambil beberapa kesimpulan sebagai berikut :

ü  Tingkat elastisitas harga komoditi sayuran yang tercipta di pasar Lama Kota Ambon berkisar pada harga Rp. 5.000,00 – 6.000,00

ü  Penurunan harga akan berdampak pada pengurangan produk yang akan dihasilkan oleh produsen

4.2 Saran

ü  Jika terjadi kelangkaan barang, produsen haruslah menawarkan produk dengan harga yang dapat dijangkau oleh semua kalangan masyarakat.

ü  Dengan adanya kerja sama yang baik antara produsen dengan konsumen maka akan tercipta lingkungan yang sejahtera.

BAB I

PENDAHULUAN

1.7  Latar Belakang

Pasar adalah keseluruhan permintaan dan penewaran barang dan jasa tertentu. Pasa sendiri terbagi kedalam 2 tipe, yaitu :

ü  Pasar Konkrit, yaitu tempat berkumpulnya penjual dan pembeli untuk memperjualbelikan barang-barang yang terdapat di sana.

ü  Pasar Abstrak, yaitu tempat berkumpulnya penjual dan pembeli, akan tetapi barang yang diperjualbelikan tidak ada.

Pasar terdiri dari beberapa bentuk mulai dari tingkat yang sederhana sampai ke tingkat yang lebih kompleks. Hal ini sangat terasa pada saat kita berada di pasar modern dan tradisonal.

1.8  Permasalahan

Masalah yang dihadapi oleh para pedagang pasar tradisional adalah penentuan harga yang terkadang terlalu jauh dari harga yang komoditi yang diperoleh pedagang.

1.3 Tujuan Praktikum

Praktikum ini bertujuan untuk :

  1. Menganalisis struktur pasar yang terbentuk pada masing-masing komoditas pada masing-masing pasar.
  2. Menganalisis penentuan harga yang terjadi di pasaran.

BAB II

METODE PRAKTIKUM

 

2.1 Lokasi dan Waktu

Praktikum ini dilaksanakan di Pasar Lama Kota Ambon dan Foodmart Ambon Plaza tanggal 13 Januari 2013. Dimulai dari jam 11.30-selesai.

2.2 Metode Praktikum

Ü  Survey

Survey dilakukan dilakukan untuk kelompok komoditas :

ü  Tanaman pangan (5 pedagang pasar tradisional, 1 pasar modern)

ü  Tanaman hortikultura (5 pedagang pasar tradisional, 1 pasar modern)

Survey berkaitan dengan penggalian data primer dengan menggunakan instrumen berupa kuisioner yang disusun tim pembina praktikum.

Ü  Sample

Sampel dipilih secara acak dari beberapa konsumen yang ditemui di Pasar Lama Kota Ambon dan Foodmart Ambon Plaza.

BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

  1. 1.    Struktur Pasar dari Masing-Masing Komoditas

Struktur pasar yang terbentuk yaitu :

Ü  Pasar Persaingan Sempurna (terdapat pada Pasar Lama Kota Ambon)

Hal ini didasari pada beberapa hal berikut yang menjadi ciri pasar persaingan sempurna :

ü  Terdapat penjual dan pembeli.

ü  Penjual dan pembeli mengetahui betul kondisi pasar.

ü  Penjual dan pembeli bebas mengambil keputusan dalam menetapkan harga.

ü  Harga ditentukan dari kesepakatan antara penjual dan pembeli.

ü  Barang yang diperjualbelikan bersifat homogen.

ü  Terdapat banyak penjual dan pembeli dari barang yang sama.

ü  Terjadinya persaingan harga.

Ü  Pasar Persaingan Monopolistis (terdapat pada Foodmart Ambon Plaza)

Hal ini didasarkan pada :

ü  Pasar yang memiliki banyak produsen dimana perusahaan pesaing bebas memasukan industri mereka serta mendiferensiasikan produk mereka.

ü  Produsen bertindak sebagai price maker.

ü  Produk yang diperjualbelikan bersifat heterogen.

  1. 2.    Penentuan Harga di Pasaran

Di pasar Lama, harga pasar sangat ditentukan oleh kekuatan tawar menawar penjual dan pembeli hingga mencapai kata sepakat untuk barang yang diperjualbelikan. Lain halnya dengan barang-barang yang terdapat di Foodmart, umumnya harga telah ditetapkan produsen sehingga konsumen tidak dapat melakukan kegiatan tawar menawar.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan

Berdasarkan penjelasan di atas, kami dapat mengambil beberapa kesimpulan sebagai berikut :

ü  Struktur pasar sangat ditentukan oleh interaksi antara penjual dan pembeli, penentuan harga pasar serta pengambilan keputusan dalam menetapkan harga.

ü  Penentuan harga sangat ditentukan oleh bentuk pasar yang bersangkutan.

4.2 Saran

ü Pembeli harus mengetahui kondisi pasar agar dapat disesuaikan dengan biaya yang dimilikinya.

ü Pemerintah harus mengambil kebijakan untuk melindungi konsumen dan produsen agar kedua bela pihak tidak merasa dirugikan.

 

DAFTAR PUSTAKA

Salvatore, Dominick. 1982. Teori Mikroekonomi Edisi Kedua. Erlangga: Jakarta

Soekartawi. 2002. Prinsip Dasar Ekonomi Pertanian: Teori dan Aplikasi. PT RajaGrafindo Persada: Jakarta

 

 

Lampiran I (Karakteristik Responden dan Profil Usahatani)

 

Nama                           : Rasid

Umur                           : 50 tahun

Jenis Kelamin              : Laki-laki

Pendidikan Terakhir    : –

Pekerjaa                       : a. Utama                    : Petani

b. Sampingan                        : –

Jumlah anggota keluarga         : 5 orang

Lama bekerja                                       : 2 tahun

Alasan bekerja                                     : tidak ada pilihan lain

Jenis komoditi yang diusahakan         : Sawi, Kangkung dan Bayam

Pola tanam                                          : tumpang sari

Nama                           : Hasma

Umur                           : 22 tahun

Jenis Kelamin              : Perempuan

Pendidikan Terakhir    : SD

Pekerjaa                       : a. Utama                    : Petani

b. Sampingan                        : –

Jumlah anggota keluarga         : 3 orang

Lama bekerja                                       : 6 bulan

Alasan bekerja                                     : tidak ada pilihan lain

Jenis komoditi yang diusahakan         : Sawi, Kangkung dan Bayam

Pola tanam                                          : tumpang gilir

Nama                           : Mail

Umur                           : 24 tahun

Jenis Kelamin              : Laki-laki

Pendidikan Terakhir    : SD

Pekerjaa                       : a. Utama                    : Petani

b. Sampingan                        : –

Jumlah anggota keluarga         : –

Lama bekerja                                       : 4 tahun

Alasan bekerja                                     : sebagai sumber pendapatan utama/sampingan bagi keluarga

Jenis komoditi yang diusahakan         : Kangkung, Sawi, dan Bayam

Pola tanam                                          : tumpang gilir

Nama                           : Arsudi

Umur                           : 60 tahun

Jenis Kelamin              : Laki-laki

Pendidikan Terakhir    : SD

Pekerjaa                       : a. Utama                    : Petani

b. Sampingan                        : –

Jumlah anggota keluarga         : 6 orang

Lama bekerja                                       : 7 tahun

Alasan bekerja                                     : sebagai sumber pendapatan utama/sampingan bagi keluarga

Jenis komoditi yang diusahakan         : Sawi, Kangkung dan Bayam

Pola tanam                                          : Tumpang gilir

Nama                           : Udin

Umur                           : 35 tahun

Jenis Kelamin              : Laki-laki

Pendidikan Terakhir    : SD

Pekerjaa                       : a. Utama                    : Petani

b. Sampingan                        : –

Jumlah anggota keluarga         : 4 orang

Lama bekerja                                       : 2 tahun

Alasan bekerja                                     : tidak ada pilihan pekerjaan yang lain

Jenis komoditi yang diusahakan         : Kangkung, Sawi dan Bayam

Pola tanam                                          : Tumpang gilir

Nama                           : Ical

Umur                           : 33 tahun

Jenis Kelamin              : Laki-laki

Pendidikan Terakhir    : SD

Pekerjaa                       : a. Utama                    : Petani

b. Sampingan                        : Penjual sayur

Jumlah anggota keluarga         : 4 orang

Lama bekerja                                       : 3 tahun

Alasan bekerja                                     : sebagai sumber pendapatan utama/sampingan bagi keluarga

Jenis komoditi yang diusahakan         : Singkong

Pola tanam                                          : 8 bulan/sekali panen

 

Lampiran II (Dokumentasi Lapangan)

      Lokasi : Nania Bawah

     

 

 

      Lokasi : Pasar Lama Ambon

   

Lokasi : Foodmart Ambon Plaza

 

Read the rest of this entry →

Laporan Praktikum Ekonomi Pertanian

Published May 13, 2013 by harryfadlyumamit

 

LAPORAN PRAKTIKUM EKONOMI PERTANIAN

DI SUSUN

O

L

E

H

KELOMPOK II :


HARRY F. UMAMIT

M. DELVY ANDRIE EDYSON

MUHAMMAD N. SUNETH

DENNY R. ULATE

FEBRI B. RIMPA

ERVI E. CH. DOMLAY

SALLY MONTONGLAYUK

EVALINA KATIPANA

MISWANTI KILKODA

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS PATTIMURA

AMBON

2013

 

 

KATA PENGANTAR

            Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkah dan karunia-Nya kami dapat menyelesaikan laporan ini. Tidak lupa kami mengucapkan terima kasih kepada :

ü  Tim dosen pengasuh praktikum Ekonomi Pertanian yang sudah mendampingi kami dalam kegiatan praktikum di lapangan.

ü  Teman-teman yang selalu memberikan dukungan baik moril maupun materil.

ü  Serta semua pihak yang membantu kami dalam menyelesaikan penulisan ini.

Semoga kita semua selalu mendapatkan rahmat dari Tuhan Yang Maha Esa. Kami menyadari bahwa penulisan ini masih jauh dari apa yang diharapkan. Kritik dan saran para pembaca dapat membantu kami untuk mengembagkan materi ini.

Ambon, 16 Januari 2013

Penyusun Read the rest of this entry →

Teknologi Pengolahan Hasil untuk Mengatasi Masalah Ketahanan Pangan

Published May 8, 2013 by harryfadlyumamit

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Salah satu subsektor yang sangat penting dikembangkan untuk mendukung pembangunan pertanian adalah industri pengolahan hasil pertanian (makanan). Pengembangan industri makanan diharapkan akan mampu menyerap hasil pertanian yang diusahakan petani, memberikan nilai tambah terhadap produk pertanian, membuka kesempatan kerja, sumber devisa sekaligus menyediakan produk pangan yang semakin beragam. Pengolahan bahan makanan agar lebih bergizi dan awet memiliki interelasi terhadap pemenuhan gizi masyarakat, maka pemerintah hendaknya selalu berusaha untuk menyediakan suplai pangan yang cukup, aman dan bergizi. Salah satunya dengan melakukan berbagai cara pengolahan dan pengawetan pangan yang dapat memberikan nilai tambah bagi produsen dan perlindungan terhadap bahan pangan yang akan dikonsumsi. Pangan secara umum bersifat mudah rusak (perishable), karena kadar air yang terkandung di dalamnya sebagai faktor utama penyebab kerusakan pangan itu sendiri. Semakin tinggi kadar air suatu pangan, akan semakin besar kemungkinan kerusakannya baik sebagai akibat aktivitas biologis internal (metabolisme) maupun masuknya mikroba perusak. Permintaan produk olahan pertanian juga menunjukkan kecenderungan semakin meningkat baik pada pasar domestik maupun internasional (terutama olahan tapioka). Hal ini bukan saja disebabkan oleh meningkatnya jumlah penduduk dunia secara kuantitatif tetapi juga secara kualitatif kesejahteraan penduduk tersebut semakin baik yang menyebabkan semakin meningkatnya kebutuhan akan pangan yang bergizi dan beragam. Sejalan dengan hal tersebut, maka pengembangan teknologi pengolahan pertanian terutama industri makanan sangat dibutuhkan. Untuk itu pengembangan teknolog pascapanen semakin diperlukan. Upaya untuk mengembangkan teknologi tersebut sangat mungkin dilakukan mengingat masih tersedianya lahan dan teknologi on farm. Ketersediaan sumber daya alam, sumber daya manusia, besarnya hasil pertanian yang dimiliki, serta pasar terbuka akan memberikan daya tarik tersendiri bagi pelaku pada industri pengolahan hasil. Namun disisi lain, kendala pengembangan R&D juga masih ada dan akan menghambat peningkatan teknologi pengolahan hasil. Untuk itu maka sangat penting untuk meneliti berbagai faktor yang mempengaruhi adopsi inovasi teknologi pengolahan hasil. Sebagai salah satu subsektor yang sangat strategis untuk dikembangkan maka teknologi pengolahan hasil harus didorong secara sistematis dan signifikan. Meningkatnya adopsi teknologi tersebut akan tercermin dari meningkatnya akselerasi sistem inovasi teknologi pengolahan hasil. Hal ini tidak terlepas dari berbagai faktor yang mempengaruhi sistem inovasi, baik yang positif maupun yang negatif. Permasalahan utama dalam inovasi teknologi hasil pertanian adalah adanya teknolog yang relatif mahal, alat dan mesin yang tidak sesuai dengan kondisi lokasi, tingkat keuntungan yang rendah sehingga tingkat adopsi teknologi menjadi rendah. Read the rest of this entry →

Published May 8, 2013 by harryfadlyumamit

LAPORAN PRAKTIKUM

 TEKNIK BUDIDAYA TANAMAN

DI SUSUN

O

L

E

H

KELOMPOK I:

HARRY F. UMAMIT

SANTHY SLAMET

EKO J. PATALATU

FITALIS RILALE

HERIN KESAULYA

YONGKI TASIJAWA

PROGAM STUDI AGRIBISNIS

JURUSAN BUDIDAYA PERTANIAN

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS PATTIMURA

AMBON

2012

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1 Latar Belakang

Untuk meningkatkan dan menjaga kestabilan produksi pertanian, khususnya tanaman pangan, sangat perlu diterapkan teknologi yang murah dan mudah bagi petani. Teknologi tersebut dituntut ramah lingkungan dan dapat menfaatkan seluruh potensi sumberdaya alam yang ada dilingkungan pertanian, sehingga tidak memutus rantai sistem pertanian.

Penggunaan pupuk bokasi EM merupakan salah satu alternatif yang dapat diterapkan pada pertanian saat ini. Pupuk bokasih adalah pupuk organik (dari bahan jerami, pupuk kandang, samapah organik, dll) hasil fermentasi dengan teknologi EM-4 yang dapat digunakan untuk menyuburkan tanah dan menekan pertumbuhan patogen dalam tanah, sehingga efeknya dapat meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman.

Bagi petani yang menuntut pemakaian pupuk yang praktis, bokasih merupakan pupuk organik yang dapat dibuat dalam beberapa hari dan siap dipakai dalam waktu singkat. Selain itu pembuatan pupuk bokasi biaya murah, sehingga sangat efektif dan efisien bagi petani padi, palawija, sayuran, bunga dan buah dalam peningkatan produksi tanaman.

Selain pupuk bokasi, mencangkok pun merupak alternatif yang sering digunakan para petani dalam mengefisienkan waktu produksi suatu tanaman yang dinilai memberi keuntungan maksimal.

1.2 Tujuan Praktikum

Praktikum ini bertujuan agar :

  1. Mahasiswa dapat mengenal dan mengetahui teknik budidaya tanaman dengan benar.
  2. Mahasiswa dapat memanfaatkan limbah organik yang dapat dijadikan sebagai bahan pembuatan pupuk bokasih.

1.3 Metode Yang Digunakan

  1. 1.      Tempat dan Waktu

Praktikum ini dilaksanakan di kediaman Ir L. L. Riupassa/O. Dilaksanakan pada tanggal 30 Juni 2012, jam 12.00-14.30 WIT.

  1. 2.      Alat dan Bahan

Ü  Alat

Alat yang digunakan adalah :

ü  Pisau/cutter yang tajam

ü  Gunting

ü  Neraca/Timbangan

ü  Loyang

ü  Sekop

ü  Polybag

ü  Tali rafia

ü  Gergaji

Ü  Bahan

Bahan yang digunakan adalah :

ü  Larutan EM-4

ü  Daun Sirsak 100 lembar

ü  Pupuk kandang

ü  Sekam

ü  Dedak

ü  Jerami

ü  Ampas/serbuk gergaji

ü  Rumput-rumput hijau

ü  Ela sagu

ü  Larutan EM

ü  Tanah

ü  Pembungkus

ü  Tanaman Jambu Air, Belimbing, dll.

BAB II

PEMBAHASAN

 

            Kegiatan yang kami lakukan pada saat praktikum adalah :

ü  Cara membuat polybag dan transplanting tanaman (pada budidaya tanaman Seledri),

ü  Membuat pupuk bokasih dan pestisida nabati, serta

ü  Mencangkok.

  1. 1.      Budidaya Tanaman Seledri (Apium graveolens L.)

Seledri (Apium graveolens L.) termasuk dalam famili Umbelliferae dan merupakan salah satu komoditas sayuran yang banyak digunakan untuk penyedap dan penghias hidangan. Biji seledri juga digunakan sebagai bumbu dan penyedap dan ekstrak minyak bijinya berkhasiat sebagai obat. Apiin (apigenin 7– apiosilglukosida) adalah glukosida penghasil aroma daun seledri dan umbi celeriac. Tanaman Seledri dapat dibagi menjadi Seledri Tangkai, Seledri Umbi dan Seledri Daun.

  1. a.      Persyaratan Tumbuh

Seledri merupakan tanaman yang sangat tergantung pada lingkungan. Untuk dapat memperoleh kualitas dan hasil yang tinggi, seledri membutuhkan temperatur berkisar antara 16–210C. Tanah yang baik untuk pertumbuhan seledri adalah yang mampu menahan air, berdrainase baik dan pH tanah berkisar antara 5,8–6,7. Karena memiliki sistem perakaran dangkal, Seledri menghendaki air yang selalu tersedia. Irigasi tetes merupakan cara penggunaan air yang efisien dan hemat, serta dapat meningkatkan efisiensi penggunaan nitrogen.

  1. b.      Budidaya Tanaman
  • Persiapan Benih

Seledri dapat diperbanyak secara generatif dengan biji atau vegetatif dengan anakan. Untuk tujuan komersil tanaman seledri dapat diperbanyak dengan biji. Benih berasal dari varietas unggul dengan daya kecambah > 90%.

Ada tiga jenis seledri yang biasa dibudidayakan:

ü  Budidaya Seledri jenis Seledri Daun atau Seledri Iris (A. graveolens Kelompok Secalinum) yang biasa diambil daunnya dan banyak dipakai di masakan Indonesia.

ü  Budidaya Seledri jenis Seledri Tangkai (A. graveolens Kelompok Dulce) yang tangkai daunnya membesar dan beraroma segar, biasanya dipakai sebagai komponen salad.

ü  Budidaya Seledri jenis Seledri Umbi (A. graveolens Kelompok Rapaceum), yang membentuk umbi di permukaan tanah; biasanya digunakan dalam sup, dibuat semur, atau schnitzel. Umbi ini kaya provitamin A dan K.

  • Pengolahan Lahan

ü  Lahan ideal adalah tanah yang subur, gembur, mengandung bahan organik, mampu menahan air dan berdrainase baik dengan pH tanah antara 5,5-6,5.

ü  Tanah dicangkul sedalam 20-30 cm biarkan selama 15 hari, jika pH tanah kurang dari 6,5 campurkan kapur kalsit atau dolomit dengan tanah olahan, dosis kapur 1-2 ton/ha tergantung pH tanah dan jumlah Alumunium di dalam tanah, pemberian 2-3 minggu sebelum tanam.

ü  Buat bedengan dengan lebar 100 cm, tinggi 30 cm, panjang sesuai lahan, dan jarak antar bedengan 50 cm.

ü  Bedengan diberi naungan berupa alang-alang atau jerami dengan tinggi 1-1,5 m.

ü  Selain bedengan, dapat juga menggunakan media polybag.

  • Persemaian

ü  Benih disemai pada bedengan di dalam alur/larikan sedalam 0,5 cm dengan jarak antar alur 10-20 cm, sebelum disemai, benih direndam dalam air hangat (500C) atau dalam larutan Frevicur N dengan konsentrasi 0,1 % selama + 2 jam, kemudian dikeringkan. Selain itu, benih dapat di semai pada wadah/tempat khusus, seperti pot/jirigen 5 liter yang dipotong salah satu bagian sisinya.

ü  Tutup benih dengan tanah tipis dan siram permukaan bedengan sampai lembab.

ü  Untuk menjaga kelembaban persemaian ditutup dengan alang-alang atau jerami dan ditinggikan tutup tersebut apabila kecambah telah tumbuh.

  • Penanaman

ü  Setelah ± 40 hari atau telah berdaun 3-4 helai cabut bibit seledri yang sehat dengan akarnya. Berikut adalah tanaman Seledri yang siap dipindahkan ke polybag.

ü  Potong sebagian akar, selanjutnya akar direndam kedalam larutan pestisida Benlate atau Derosol pada konsentrasi 50% sekitar 15 menit.

ü  Transpalnting bibit

Transpalanting dapat dilakukan pada bedengan ataupun polybag.

  • Transpalnting ke bedengan

Pindahkan bibit pada bedengan yang telah dipersiapkan, satu bibit per lobang tanam, dengan jarak tanam: 25 x 30 cm; 20 x 20 cm atau 15 x 20 cm (tergantung varietas) dan padatkan tanah disekitar batang.

  • Transpalnting ke polybag

Sebelum bibit dipindahkan, dipersiapkan media ploybag terlebih dulu. Berikut adalah teknik membuat polybag yang baik.

µ  Polybag dilipat kecil kemudian diikat dengan tali rafia di bagian bawahnya. Hal ini dimaksudkan agar bagian bawah polybag dapat berbentuk bulat.

µ  Setelah diikat, kemudian polybag dibalik kearah dalam agar polybag dapat diletakkan dengan baik.

µ  Selain itu, polybag dapat dibuat dengan berbagai bentuk sesuai selera. Caranya, polybag dilipat kemudian digunting bagian atasnya sesuai dengan keinginan. Setelah itu, bagian bawahnya diikat dan dibalik seperti polybag yang pertama.

µ  Setelah polybag selesai dibentuk, masukkan tanah secukupnya, ±1/3 polybag. Kemudian  benih siap  ditanam. Berikut adalah gambar benih yang telah di transplanting ke polybag dengan berbagai macam bentuk.

ü Siram bedengan/polybag sampai lembab.

  • Pemeliharaan Tanaman
    • Jika ada tanaman yang mati lakukan penyulaman 7-15 hari setelah tanam.
    • Penyiangan gulma dilakukan bersamaan dengan penggemburan tanah pada umur 2 dan 4 minggu setelah tanam, penyiangan berikutnya disesuaikan dengan keadaan gulma.
    • Di awal masa pertumbuhan, penyiraman dilakukan 1-2 kali sehari, berikutnya dikurangi menjadi 2-3 kali seminggu tergantung dari cuaca. Tanah tidak boleh kekeringan atau tergenang air (becek).
  • Pemupukan
    • Pupuk dasar diberikan 3 hari sebelum tanam, yaitu pupuk kotoran ayam dengan dosis 20.000 kg/ha sebaiknya pupuk kompos organik hasil fermentasi dengan dosis 4 kg/m2, atau sering dikenal dengan sebutan “Pupuk Bokasih”. Berikut adalah cara pembuatan pupuk bokasih.

Ü Bokasih Pupuk Kandang

Bahan :

ü Pupuk kandang           (20 bagian)

ü Sekam                         (20 bagian)

ü Dedak                         (1 bagian)

ü Larutan EM

Ü Bokasih Jerami

Bahan :

ü  Jerami                          (20 bagian)

(termasuk rumput/pupuk hijau yang telah dipotong-potong 5-10 cm)

ü  Dedak                         (1 bagian)

ü  Sekam                         (20 bagian)

ü  Larutan EM

Ü Bokasih Ampas Gergaji

Bahan :

ü  Ampas/serbuk gergaji                        (30 bagian)

ü  Pupuk kandang                                 (10 bagian)

ü  Rumput-rumputan/pupuk hijau         (10 bagian)

ü  Larutan EM

Ü Bokasih Ela Sagu

Bahan :

ü  Ela Sagu                                            (30 bagian)

ü  Pupuk kandang                                 (10 bagian)

ü  Rumput-rumputan/pupuk hijau         (10 bagian)

ü  Larutan EM

v Cara Pembuatan :

ü  Bahan-bahan untuk bokasih dicampur merata.

ü  Basahi campuran bahan perlahan-lahan sampai kadar air mencapai 30-50%. Caranya adonan dikepal dengan tangan, kemudian dilepas, tangan sepeti berkeringat (basah), itu pertanda kadar air telah mencukupi.

ü  Adonan digundukan diatas ubin yang kering dengan ketinggian 15-20 cm, kemudian ditutup dengan karung goni, selama 3-4 hari.

ü  Pertahankan suhu adonan 40-50 0C. Jika suhu lebih dari 50 0C, buka tutup karung dan gundukan adonan dibolak-balik, kemudian ditutup lagi. Suhu yang tinggi dapat  mengakibat pembusukan. Pengecekan dapat dilakukan setiap 5 jam.

ü  Setelah 4-6 hari, bokasih telah selesai terfermentasi dan siap digunakan sebagai pupuk organik. Berikut adalah gambar pupuk bokasih yang telah jadi dan siap dicampurkan dengan tanah.

Gambar : bokasih yang telah dicampur dengan tanah. Dengan perbandingan 3:1(3 karung tanah : 1 karung bokasih).

  • Pada umur 2 minggu setelah tanam berikan pupuk N 300 kg, P 75 kg dan K 250 kg/ha secara larikan dibarisan tanaman.
  • Pupuk susulan berikutnya larutkan 2-3 kg pupuk NPK ke dalam 200 liter air dan berikan secara kocor diantara barisan tanaman, hal ini dapat dilakukan selama tanaman masih produksitf dengan interfal 7 hari satu kali pemberian.
  • Dapat juga diberikan pupuk cair dengan dosis 0,3 ml/m2 yang dimulai pada umur 3 minggu setelah tanam dengan interval 10 hari satu kali.
  • Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT)
    • Hama yang ditemui seperti Ulat Tanah, Keong, Kutu Daun Tungau dan Trhips. Hama dapat dihilangkan secara mekanik yaitu dipungut dengan tangan.
    • Penyakit yang sering menyerang tanaman yaitu Bercak Cercospora, Bercak Septoria, Virus Aster Yellow. Pengendalian dilakukan mulai dari persemaian hingga panen, jika terpaksa gunakan pestisida yang aman dan mudah terurai seperti pestisida biologi, pestisida nabati atau pestisida piretroid sintetik.

Berikut adalah cara pembuatan pestisida nabati dengan mengunakan Daun Sirsak dalam mengendalikan Hama Trhips.

ü  Tumbuk/gunting kecil-kecil 100 lembar daun sirsak. Kemudian diblender untuk mendapatkan daun yang mudah diperah.

ü  Rendam dalam 5 liter air dan tambahkan 15 gr detergen .

ü  Saring larutan tersebut dengan kain/penyaring.

ü  Encerkan setiap liter larutan dalam 10 liter air.

Gambar : daun Sirsak yang telah diencerkan dengan 10 liter air.

ü  Larutan semprot siap digunakan.

Gambar : handsprayer 2 liter

  1. c.    Panen dan Pascapanen
  • Panen
    • Seledri dapat dipanen setelah berumur 40 sampai dengan 150 hari setelah tanam (tergantung varietas).
    • Saledri daun dipanen 4-8 hari sekali.
    • Seledri potong dipanen dengan memotong tanaman pada pangkal batang secara periodik sampai pertumbuhan anakan berkurang.
    • Seledri umbi dipanen dengan memetik daun-daunnya dan dilakukan secara periodik sampai tanaman kurang porduktif.
  • Pascapanen
    • Hasil panen diseleksi dengan cara membuang tangkai daun yang cacat atau terserang hama.
    • Untuk membersihkan dari kotoran/tanah dan residu pestisida, Seledri dicuci dengan air mengalir atau disemprot kemudian tiriskan di rak-rak.
    • Sortasi perlu dilakukan terutama jika Seledri akan dipasarkan di swalayan atau untuk eksport. Sortasi dilakukan berdasarkan ukuran dan jenis yang seragam dan sesuai dengan permintaan pasar.
    • Seledri diikat pada berat tertentu yang disesuaikan dengan permintaan pasar.
  1. 2.      Mencangkok

 

Ü  Persiapan

Siapkan alat dan bahan yang terdiri dari pisau, sabut kelapa/plastik bening, tali, campuran tanah subur, dan cabang yang cukup umur.

 

Ü  Pelaksanaan mencangkok

ü Pilih cabang yang memenuhi persyaratan, yaitu berukuran cukup besar, tidak terlalu muda ataupun tua, pertumbuhannya baik, sehat dan tidak cacat, serta lurus.

ü Tentukan tempat untuk keratan pada bagian cabang yang licin.

ü Buat dua keratan (irisan) melingkar cabang dengan jarak antara 3–5 cm.

ü Lepaskan kulit cabang bidang keratan tadi.

ü Keringkan kambium hingga tampak kering.

ü Biarkan bekas keratan mengering antara 3 hari sampai 5 hari.

ü Olesi bidang sayatan dengan zat pengatur tumbuh akar (rooton f).

ü Ikat pembalut cangkok pada bagian bawah keratan.

ü Letakkan campuran tanah subur pada bidang karatan sambil dipadatkan membentuk bulatan setebal ± 6 cm.

ü Bungkus tanah dengan pembalut sabut kelapa atau lembaran plastik.

ü kat ujung pembalut (pembungkus) di bagian ujung keratan.

ü Ikat bagian tengah pembungkus cangkok, seperti tampak pada gambar di bawah ini.

Ü  Pemotongan bibit cangkok

Setelah bibit cangkok menunjukkan perakarannya (1,5–3,5 bulan dari pencangkokan), potong bibit cangkok dari pohon tepat dibawah bidang keratan, seperti tampak pada gambar di bawah ini.

 

Ü  Pendederan bibit cangkok

ü  Siapkan polybag berdiameter antara 15-25 cm atau sesuai dengan ukuran bibit cangkok.

ü  Isi polybag dengan media berupa campuran tanah dan pupuk kandang matang (2:1) hingga mencapai setengah bagian polybag.

ü  Lepaskan (buka) pembalut bibit cangkok.

ü  Pangkas sebagian dahan, ranting, dan daun yang berlebihan untuk mengurangi penguapan.

ü  Tanamkan bibit cangkok tepat di tengah-tengah polybag sambil mengatur perakarannya secara hati-hati.

ü  Penuhi polybag dengan media hingga cukup penuh sambil memadatkan pelan-pelan pada bagian pangkal batang bibit cangkok.

ü  Siram media dalam polybag dengan air bersih hingga cukup basah.

ü  Simpan bibit cangkok di tempat yang teduh dan lembab.

ü  Biarkan dan pelihara bibit cangkok selama 1-1,5 bulan agar beradaptasi dengan lingkungan setempat dan tumbuh tunas-tunas dan akar baru.

ü  Pindah tanamkan bibit cangkok yang sudah tumbuh cukup kuat ke kebun atau dalam pot, seperti tampak pada gambar di dibawah ini.

Ü  Pengakhiran

Berhasil tidaknya cangkok dapat diketahui setelah 1,5-3,5 bulan kemudian. Berdasarkan pengalaman para pembibit tanaman buah-buahan, pembungkus (pembalut) cangkok yang berupa lembaran plastik lebih cepat menumbuhkan akar dibandingkan sabut kelapa.

 

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

            Kesimpulan yang dapat diambil dari pembahasan ini adalah :

Ü  Budidaya tanaman Seledri dapat dimulai dari persiapan benih, pengolahan lahan, persemaian, penanaman, pemeliharaan, pemupukan, pengendalian OPT, panen dan pascapanen.

Ü  Dalam penanaman, benih dapat ditanam pada bedengan ataupun polybag. Polybag sendiri dapat dibentuk sesuai dengan keinginan. Kemudian bibit di transplanting ke bedengan atau polybag.

Ü  Pemupukan dapat memanfaatkan bahan-bahan organik yang dikenal dengan pupuk organik/pupuk bokasih.

Ü  Teknik budidaya tanaman yang lain adalah mencangkok. Mencangkok dapat mempersingkat waktu persemaian tanaman.

3.2 Saran

            Setelah menyusun laporan ini, kami menyarankan agar dosen pembimbing mata kuliah dapat menjelaskan kepada kami tentang apa yang telah kami jelaskan dalam laporan ini, yang mungkin masih jauh dari apa yang diharapkan oleh dosen pembimbing mata kuliah.

DAFTAR PUSTAKA

http://mangtolib.blogspot.com/2011/10/budidaya-seledri-di-dataran-rendah.html

http://www.deptan.go.id/daerah_new/banten/dispertanak_pandeglang/artikel_12.htm

http://ditjenbun.deptan.go.id/perlindungan/index.php?option=com_content&view=article&id=156:ramuan-pestisida-nabati-dari-daun-sirsak-annona-muricata-l-&catid=15:home 

Published March 17, 2013 by harryfadlyumamit

LAPORAN PRAKTIKUM

 TEKNIK BUDIDAYA TANAMAN

DI SUSUN

O

L

E

H

KELOMPOK I:

HARRY F. UMAMIT

SANTHY SLAMET

EKO J. PATALATU

FITALIS RILALE

HERIN KESAULYA

YONGKI TASIJAWA

 

 

 

PROGAM STUDI AGRIBISNIS

JURUSAN BUDIDAYA PERTANIAN

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS PATTIMURA

AMBON

2012

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1 Latar Belakang

            Untuk meningkatkan dan menjaga kestabilan produksi pertanian, khususnya tanaman pangan, sangat perlu diterapkan teknologi yang murah dan mudah bagi petani. Teknologi tersebut dituntut ramah lingkungan dan dapat menfaatkan seluruh potensi sumberdaya alam yang ada dilingkungan pertanian, sehingga tidak memutus rantai sistem pertanian.

            Penggunaan pupuk bokasi EM merupakan salah satu alternatif yang dapat diterapkan pada pertanian saat ini. Pupuk bokasih adalah pupuk organik (dari bahan jerami, pupuk kandang, samapah organik, dll) hasil fermentasi dengan teknologi EM-4 yang dapat digunakan untuk menyuburkan tanah dan menekan pertumbuhan patogen dalam tanah, sehingga efeknya dapat meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman.

            Bagi petani yang menuntut pemakaian pupuk yang praktis, bokasih merupakan pupuk organik yang dapat dibuat dalam beberapa hari dan siap dipakai dalam waktu singkat. Selain itu pembuatan pupuk bokasi biaya murah, sehingga sangat efektif dan efisien bagi petani padi, palawija, sayuran, bunga dan buah dalam peningkatan produksi tanaman.

            Selain pupuk bokasi, mencangkok pun merupak alternatif yang sering digunakan para petani dalam mengefisienkan waktu produksi suatu tanaman yang dinilai memberi keuntungan maksimal.

1.2 Tujuan Praktikum

            Praktikum ini bertujuan agar :

  1. Mahasiswa dapat mengenal dan mengetahui teknik budidaya tanaman dengan benar.
  2. Mahasiswa dapat memanfaatkan limbah organik yang dapat dijadikan sebagai bahan pembuatan pupuk bokasih.

 

1.3 Metode Yang Digunakan

  1. 1.      Tempat dan Waktu

Praktikum ini dilaksanakan di kediaman Ir L. L. Riupassa/O. Dilaksanakan pada tanggal 30 Juni 2012, jam 12.00-14.30 WIT.

 

  1. 2.      Alat dan Bahan

Ü  Alat

Alat yang digunakan adalah :

ü  Pisau/cutter yang tajam

ü  Gunting

ü  Neraca/Timbangan

ü  Loyang

ü  Sekop

ü  Polybag

ü  Tali rafia

ü  Gergaji

 

Ü  Bahan

Bahan yang digunakan adalah :

ü  Larutan EM-4

ü  Daun Sirsak 100 lembar

ü  Pupuk kandang

ü  Sekam

ü  Dedak

ü  Jerami

ü  Ampas/serbuk gergaji

ü  Rumput-rumput hijau

ü  Ela sagu

ü  Larutan EM

ü  Tanah

ü  Pembungkus

ü  Tanaman Jambu Air, Belimbing, dll.

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

            Kegiatan yang kami lakukan pada saat praktikum adalah :

ü  Cara membuat polybag dan transplanting tanaman (pada budidaya tanaman Seledri),

ü  Membuat pupuk bokasih dan pestisida nabati, serta

ü  Mencangkok.

 

  1. 1.      Budidaya Tanaman Seledri (Apium graveolens L.)

      Seledri (Apium graveolens L.) termasuk dalam famili Umbelliferae dan merupakan salah satu komoditas sayuran yang banyak digunakan untuk penyedap dan penghias hidangan. Biji seledri juga digunakan sebagai bumbu dan penyedap dan ekstrak minyak bijinya berkhasiat sebagai obat. Apiin (apigenin 7– apiosilglukosida) adalah glukosida penghasil aroma daun seledri dan umbi celeriac. Tanaman Seledri dapat dibagi menjadi Seledri Tangkai, Seledri Umbi dan Seledri Daun.

 

  1. a.      Persyaratan Tumbuh

      Seledri merupakan tanaman yang sangat tergantung pada lingkungan. Untuk dapat memperoleh kualitas dan hasil yang tinggi, seledri membutuhkan temperatur berkisar antara 16–210C. Tanah yang baik untuk pertumbuhan seledri adalah yang mampu menahan air, berdrainase baik dan pH tanah berkisar antara 5,8–6,7. Karena memiliki sistem perakaran dangkal, Seledri menghendaki air yang selalu tersedia. Irigasi tetes merupakan cara penggunaan air yang efisien dan hemat, serta dapat meningkatkan efisiensi penggunaan nitrogen.

 

  1. b.      Budidaya Tanaman
  • Persiapan Benih

            Seledri dapat diperbanyak secara generatif dengan biji atau vegetatif dengan anakan. Untuk tujuan komersil tanaman seledri dapat diperbanyak dengan biji. Benih berasal dari varietas unggul dengan daya kecambah > 90%.

            Ada tiga jenis seledri yang biasa dibudidayakan:

ü  Budidaya Seledri jenis Seledri Daun atau Seledri Iris (A. graveolens Kelompok Secalinum) yang biasa diambil daunnya dan banyak dipakai di masakan Indonesia. 

ü  Budidaya Seledri jenis Seledri Tangkai (A. graveolens Kelompok Dulce) yang tangkai daunnya membesar dan beraroma segar, biasanya dipakai sebagai komponen salad. 

ü  Budidaya Seledri jenis Seledri Umbi (A. graveolens Kelompok Rapaceum), yang membentuk umbi di permukaan tanah; biasanya digunakan dalam sup, dibuat semur, atau schnitzel. Umbi ini kaya provitamin A dan K.

 

 

  • Pengolahan Lahan

ü  Lahan ideal adalah tanah yang subur, gembur, mengandung bahan organik, mampu menahan air dan berdrainase baik dengan pH tanah antara 5,5-6,5.

ü  Tanah dicangkul sedalam 20-30 cm biarkan selama 15 hari, jika pH tanah kurang dari 6,5 campurkan kapur kalsit atau dolomit dengan tanah olahan, dosis kapur 1-2 ton/ha tergantung pH tanah dan jumlah Alumunium di dalam tanah, pemberian 2-3 minggu sebelum tanam. 

ü  Buat bedengan dengan lebar 100 cm, tinggi 30 cm, panjang sesuai lahan, dan jarak antar bedengan 50 cm.

ü  Bedengan diberi naungan berupa alang-alang atau jerami dengan tinggi 1-1,5 m.

ü  Selain bedengan, dapat juga menggunakan media polybag.

 

  • Persemaian

ü  Benih disemai pada bedengan di dalam alur/larikan sedalam 0,5 cm dengan jarak antar alur 10-20 cm, sebelum disemai, benih direndam dalam air hangat (500C) atau dalam larutan Frevicur N dengan konsentrasi 0,1 % selama + 2 jam, kemudian dikeringkan. Selain itu, benih dapat di semai pada wadah/tempat khusus, seperti pot/jirigen 5 liter yang dipotong salah satu bagian sisinya.

ü  Tutup benih dengan tanah tipis dan siram permukaan bedengan sampai lembab.

ü  Untuk menjaga kelembaban persemaian ditutup dengan alang-alang atau jerami dan ditinggikan tutup tersebut apabila kecambah telah tumbuh.

 

  • Penanaman

ü  Setelah ± 40 hari atau telah berdaun 3-4 helai cabut bibit seledri yang sehat dengan akarnya. Berikut adalah tanaman Seledri yang siap dipindahkan ke polybag.

 

 

ü  Potong sebagian akar, selanjutnya akar direndam kedalam larutan pestisida Benlate atau Derosol pada konsentrasi 50% sekitar 15 menit.

ü  Transpalnting bibit

            Transpalanting dapat dilakukan pada bedengan ataupun polybag.

  • Transpalnting ke bedengan

            Pindahkan bibit pada bedengan yang telah dipersiapkan, satu bibit per lobang tanam, dengan jarak tanam: 25 x 30 cm; 20 x 20 cm atau 15 x 20 cm (tergantung varietas) dan padatkan tanah disekitar batang.

  • Transpalnting ke polybag

            Sebelum bibit dipindahkan, dipersiapkan media ploybag terlebih dulu. Berikut adalah teknik membuat polybag yang baik.

µ  Polybag dilipat kecil kemudian diikat dengan tali rafia di bagian bawahnya. Hal ini dimaksudkan agar bagian bawah polybag dapat berbentuk bulat.

µ  Setelah diikat, kemudian polybag dibalik kearah dalam agar polybag dapat diletakkan dengan baik.

µ  Selain itu, polybag dapat dibuat dengan berbagai bentuk sesuai selera. Caranya, polybag dilipat kemudian digunting bagian atasnya sesuai dengan keinginan. Setelah itu, bagian bawahnya diikat dan dibalik seperti polybag yang pertama.

µ  Setelah polybag selesai dibentuk, masukkan tanah secukupnya, ±1/3 polybag. Kemudian  benih siap  ditanam. Berikut adalah gambar benih yang telah di transplanting ke polybag dengan berbagai macam bentuk.

 

 

ü Siram bedengan/polybag sampai lembab.

 

  • Pemeliharaan Tanaman
    • Jika ada tanaman yang mati lakukan penyulaman 7-15 hari setelah tanam.
    • Penyiangan gulma dilakukan bersamaan dengan penggemburan tanah pada umur 2 dan 4 minggu setelah tanam, penyiangan berikutnya disesuaikan dengan keadaan gulma.
    • Di awal masa pertumbuhan, penyiraman dilakukan 1-2 kali sehari, berikutnya dikurangi menjadi 2-3 kali seminggu tergantung dari cuaca. Tanah tidak boleh kekeringan atau tergenang air (becek).

 

  • Pemupukan
    • Pupuk dasar diberikan 3 hari sebelum tanam, yaitu pupuk kotoran ayam dengan dosis 20.000 kg/ha sebaiknya pupuk kompos organik hasil fermentasi dengan dosis 4 kg/m2, atau sering dikenal dengan sebutan “Pupuk Bokasih”. Berikut adalah cara pembuatan pupuk bokasih.

Ü Bokasih Pupuk Kandang

Bahan :

ü Pupuk kandang           (20 bagian)

ü Sekam                         (20 bagian)

ü Dedak                         (1 bagian)

ü Larutan EM

Ü Bokasih Jerami

Bahan :

ü  Jerami                          (20 bagian)

(termasuk rumput/pupuk hijau yang telah dipotong-potong 5-10 cm)

ü  Dedak                         (1 bagian)

ü  Sekam                         (20 bagian)

ü  Larutan EM

Ü Bokasih Ampas Gergaji

Bahan :

ü  Ampas/serbuk gergaji                        (30 bagian)

ü  Pupuk kandang                                 (10 bagian)

ü  Rumput-rumputan/pupuk hijau         (10 bagian)

ü  Larutan EM

Ü Bokasih Ela Sagu

Bahan :

ü  Ela Sagu                                            (30 bagian)

ü  Pupuk kandang                                 (10 bagian)

ü  Rumput-rumputan/pupuk hijau         (10 bagian)

ü  Larutan EM

 

v Cara Pembuatan :

ü  Bahan-bahan untuk bokasih dicampur merata.

ü  Basahi campuran bahan perlahan-lahan sampai kadar air mencapai 30-50%. Caranya adonan dikepal dengan tangan, kemudian dilepas, tangan sepeti berkeringat (basah), itu pertanda kadar air telah mencukupi.

ü  Adonan digundukan diatas ubin yang kering dengan ketinggian 15-20 cm, kemudian ditutup dengan karung goni, selama 3-4 hari.

ü  Pertahankan suhu adonan 40-50 0C. Jika suhu lebih dari 50 0C, buka tutup karung dan gundukan adonan dibolak-balik, kemudian ditutup lagi. Suhu yang tinggi dapat  mengakibat pembusukan. Pengecekan dapat dilakukan setiap 5 jam.

ü  Setelah 4-6 hari, bokasih telah selesai terfermentasi dan siap digunakan sebagai pupuk organik. Berikut adalah gambar pupuk bokasih yang telah jadi dan siap dicampurkan dengan tanah.

 

 

 

Gambar : bokasih yang telah dicampur dengan tanah. Dengan perbandingan 3:1(3 karung tanah : 1 karung bokasih).

 

  • Pada umur 2 minggu setelah tanam berikan pupuk N 300 kg, P 75 kg dan K 250 kg/ha secara larikan dibarisan tanaman.
  • Pupuk susulan berikutnya larutkan 2-3 kg pupuk NPK ke dalam 200 liter air dan berikan secara kocor diantara barisan tanaman, hal ini dapat dilakukan selama tanaman masih produksitf dengan interfal 7 hari satu kali pemberian.
  • Dapat juga diberikan pupuk cair dengan dosis 0,3 ml/m2 yang dimulai pada umur 3 minggu setelah tanam dengan interval 10 hari satu kali.

 

  • Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT)
    • Hama yang ditemui seperti Ulat Tanah, Keong, Kutu Daun Tungau dan Trhips. Hama dapat dihilangkan secara mekanik yaitu dipungut dengan tangan.
    • Penyakit yang sering menyerang tanaman yaitu Bercak Cercospora, Bercak Septoria, Virus Aster Yellow. Pengendalian dilakukan mulai dari persemaian hingga panen, jika terpaksa gunakan pestisida yang aman dan mudah terurai seperti pestisida biologi, pestisida nabati atau pestisida piretroid sintetik.

Berikut adalah cara pembuatan pestisida nabati dengan mengunakan Daun Sirsak dalam mengendalikan Hama Trhips.

ü  Tumbuk/gunting kecil-kecil 100 lembar daun sirsak. Kemudian diblender untuk mendapatkan daun yang mudah diperah.

ü  Rendam dalam 5 liter air dan tambahkan 15 gr detergen .

ü  Saring larutan tersebut dengan kain/penyaring.

ü  Encerkan setiap liter larutan dalam 10 liter air.

 

Gambar : daun Sirsak yang telah diencerkan dengan 10 liter air.

ü  Larutan semprot siap digunakan.

 

 

Gambar : handsprayer 2 liter

 

 

 

  1. c.    Panen dan Pascapanen
  • Panen
    • Seledri dapat dipanen setelah berumur 40 sampai dengan 150 hari setelah tanam (tergantung varietas).
    • Saledri daun dipanen 4-8 hari sekali.
    • Seledri potong dipanen dengan memotong tanaman pada pangkal batang secara periodik sampai pertumbuhan anakan berkurang.
    • Seledri umbi dipanen dengan memetik daun-daunnya dan dilakukan secara periodik sampai tanaman kurang porduktif.

 

  • Pascapanen
    • Hasil panen diseleksi dengan cara membuang tangkai daun yang cacat atau terserang hama.
    • Untuk membersihkan dari kotoran/tanah dan residu pestisida, Seledri dicuci dengan air mengalir atau disemprot kemudian tiriskan di rak-rak.
    • Sortasi perlu dilakukan terutama jika Seledri akan dipasarkan di swalayan atau untuk eksport. Sortasi dilakukan berdasarkan ukuran dan jenis yang seragam dan sesuai dengan permintaan pasar.
    • Seledri diikat pada berat tertentu yang disesuaikan dengan permintaan pasar.

 

 

  1. 2.      Mencangkok

 

Ü  Persiapan

Siapkan alat dan bahan yang terdiri dari pisau, sabut kelapa/plastik bening, tali, campuran tanah subur, dan cabang yang cukup umur.

 

Ü  Pelaksanaan mencangkok

ü Pilih cabang yang memenuhi persyaratan, yaitu berukuran cukup besar, tidak terlalu muda ataupun tua, pertumbuhannya baik, sehat dan tidak cacat, serta lurus.

ü Tentukan tempat untuk keratan pada bagian cabang yang licin.

ü Buat dua keratan (irisan) melingkar cabang dengan jarak antara 3–5 cm.

 

 

 

 

 

 

ü Lepaskan kulit cabang bidang keratan tadi.

 

 

ü Keringkan kambium hingga tampak kering.

ü Biarkan bekas keratan mengering antara 3 hari sampai 5 hari.

ü Olesi bidang sayatan dengan zat pengatur tumbuh akar (rooton f).

ü Ikat pembalut cangkok pada bagian bawah keratan.

 

 

ü Letakkan campuran tanah subur pada bidang karatan sambil dipadatkan membentuk bulatan setebal ± 6 cm.

ü Bungkus tanah dengan pembalut sabut kelapa atau lembaran plastik.

ü kat ujung pembalut (pembungkus) di bagian ujung keratan.

ü Ikat bagian tengah pembungkus cangkok, seperti tampak pada gambar di bawah ini.

 

 

Ü  Pemotongan bibit cangkok

Setelah bibit cangkok menunjukkan perakarannya (1,5–3,5 bulan dari pencangkokan), potong bibit cangkok dari pohon tepat dibawah bidang keratan, seperti tampak pada gambar di bawah ini.

 

 

Ü  Pendederan bibit cangkok

ü  Siapkan polybag berdiameter antara 15-25 cm atau sesuai dengan ukuran bibit cangkok.

ü  Isi polybag dengan media berupa campuran tanah dan pupuk kandang matang (2:1) hingga mencapai setengah bagian polybag.

ü  Lepaskan (buka) pembalut bibit cangkok.

ü  Pangkas sebagian dahan, ranting, dan daun yang berlebihan untuk mengurangi penguapan.

ü  Tanamkan bibit cangkok tepat di tengah-tengah polybag sambil mengatur perakarannya secara hati-hati.

 

ü  Penuhi polybag dengan media hingga cukup penuh sambil memadatkan pelan-pelan pada bagian pangkal batang bibit cangkok.

ü  Siram media dalam polybag dengan air bersih hingga cukup basah.

ü  Simpan bibit cangkok di tempat yang teduh dan lembab.

ü  Biarkan dan pelihara bibit cangkok selama 1-1,5 bulan agar beradaptasi dengan lingkungan setempat dan tumbuh tunas-tunas dan akar baru.

 

 

ü  Pindah tanamkan bibit cangkok yang sudah tumbuh cukup kuat ke kebun atau dalam pot, seperti tampak pada gambar di dibawah ini.

 

 

Ü  Pengakhiran

Berhasil tidaknya cangkok dapat diketahui setelah 1,5-3,5 bulan kemudian. Berdasarkan pengalaman para pembibit tanaman buah-buahan, pembungkus (pembalut) cangkok yang berupa lembaran plastik lebih cepat menumbuhkan akar dibandingkan sabut kelapa.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

            Kesimpulan yang dapat diambil dari pembahasan ini adalah :

Ü  Budidaya tanaman Seledri dapat dimulai dari persiapan benih, pengolahan lahan, persemaian, penanaman, pemeliharaan, pemupukan, pengendalian OPT, panen dan pascapanen.

Ü  Dalam penanaman, benih dapat ditanam pada bedengan ataupun polybag. Polybag sendiri dapat dibentuk sesuai dengan keinginan. Kemudian bibit di transplanting ke bedengan atau polybag.

Ü  Pemupukan dapat memanfaatkan bahan-bahan organik yang dikenal dengan pupuk organik/pupuk bokasih.

Ü  Teknik budidaya tanaman yang lain adalah mencangkok. Mencangkok dapat mempersingkat waktu persemaian tanaman.

 

3.2 Saran

            Setelah menyusun laporan ini, kami menyarankan agar dosen pembimbing mata kuliah dapat menjelaskan kepada kami tentang apa yang telah kami jelaskan dalam laporan ini, yang mungkin masih jauh dari apa yang diharapkan oleh dosen pembimbing mata kuliah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

http://mangtolib.blogspot.com/2011/10/budidaya-seledri-di-dataran-rendah.html

http://www.deptan.go.id/daerah_new/banten/dispertanak_pandeglang/artikel_12.htm

http://ditjenbun.deptan.go.id/perlindungan/index.php?option=com_content&view=article&id=156:ramuan-pestisida-nabati-dari-daun-sirsak-annona-muricata-l-&catid=15:home 

 

Published March 14, 2013 by harryfadlyumamit

 

LAPORAN PRAKTIKUM EKONOMI PERTANIAN

 

 

DI SUSUN

O

L

E

H

KELOMPOK II :


HARRY F. UMAMIT

M. DELVY ANDRIE EDYSON

MUHAMMAD N. SUNETH

DENNY R. ULATE

FEBRI B. RIMPA

ERVI E. CH. DOMLAY

SALLY MONTONGLAYUK

EVALINA KATIPANA

MISWANTI KILKODA

 

     

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS PATTIMURA

AMBON

2013

 

 

KATA PENGANTAR

            Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkah dan karunia-Nya kami dapat menyelesaikan laporan ini. Tidak lupa kami mengucapkan terima kasih kepada :

ü  Tim dosen pengasuh praktikum Ekonomi Pertanian yang sudah mendampingi kami dalam kegiatan praktikum di lapangan.

ü  Teman-teman yang selalu memberikan dukungan baik moril maupun materil.

ü  Serta semua pihak yang membantu kami dalam menyelesaikan penulisan ini.

Semoga kita semua selalu mendapatkan rahmat dari Tuhan Yang Maha Esa. Kami menyadari bahwa penulisan ini masih jauh dari apa yang diharapkan. Kritik dan saran para pembaca dapat membantu kami untuk mengembagkan materi ini.

 

 

 

 

 

 

                                                                                                Ambon, 16 Januari 2013

 

                                                                                                                        Penyusun

 

 

 

 

 

DAFTAR ISI

Kata Pengantar          

Daftar Isi                    

 

Praktikum I (Produksi dan Biaya Produk Pertanian)

                       

Praktikum II (Penawaran Produk Pertanian)                         

 

Praktikum III (Preferensi Produk Pertanian)                         

 

Praktikum IV (Permintaan Produk Pertanian)                       

 

Praktikum V (Pasar dan Penetapan Harga)               

 

Daftar Pustaka

 

Lampiran I

 

Lampiran II

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Dalam melakukan usaha pertanian, seorang pengusaha atau katakanlah seorang petani akan selalu berpikir bagaimana ia mengalokasikan input seefisien mungkin untuk dapat memperoleh produksi yang maksimal. Cara pemikiran yang demikian adalah wajar mengingat petani melakukan konsep bagaimana memaksimumkan keuntungan. Di lain pihak, manakala petani dihadapkan pada keterbatasan biaya dalam melakukan usahataninya, maka mereka juga tetap mencoba bagaimana meningkatkan keuntungan tersebut dengan kendala biaya usaha tani yang terbatas. Suatu tindakan yang dapat dilakukan adalah bagaimana memperoleh keuntungan yang lebih besar dengan menekan biaya produksi sekecil-kecilnya.

Kegiatan produksi pertaian merupakan salah satu kegiatan produksi yang sangat bergantung pada kondisi lingkungan (cuaca/iklim) dan dibatasi oleh proses biologis tanaman. Hal ini tentunya memberikan dampak terhadap fluktuasi produksi sektor pertanian karena apabila kondisi lingkungan yang mendukung perumbuhan tanaman, akan berpengaruh pada peningkatan produksi, tetapi jika kondisi lingkungan tidak mendukung hal ini berdampak pada penurunan hasil produksi.

Implikasi dari hal di atas adalah rentannya proses produksi pertanian terhadap kerusakan (deterioration). Kondisi inilah yang menyebabkan posisi tawar petani dalam memasarkan produksinya sangat lemah sekaligus menghadapi resiko dan ketidakpastian (risk and uncertainty) yang besar berkaitan dengan proses produksi.

1.2  Permasalahan

Masalah yang dihadapi oleh petani umumnya adalah cuaca yang kurang baik sehingga meningkatnya perkembangan hama yang berakibat pada penurunan produksi.

1.3 Tujuan Praktikum

Praktikum ini bertujuan untuk :

  1. Menganalisis produksi usahatani dalam satu tahun berdasarkan pola tanam, peluang dan kendalanya.
  2. Menganalisis biaya usahatani, baik biaya tetap dan biaya variabel.
  3. Menganalisis keuntungan usahatani dalam satu tahun berdasarkan pola tanam yang dilakukan.

 

 

 

 

BAB II

METODE PRAKTIKUM

 

2.1 Lokasi dan Waktu

Praktikum ini dilaksanakan di Desa Nania tanggal 12 Januari 2013. Dimulai dari jam 11.30-selesai.

2.2 Metode Praktikum

Ü  Survey

Survey dilakukan dilakukan untuk kelompok komoditas :

ü  Tanaman pangan (5 petani)

ü  Tanaman hortikultura (5 petani)

Survey berkaitan dengan penggalian data primer dengan menggunakan instrumen berupa kuisioner yang disusun tim pembina praktikum.

Ü  Sample

Sampel dipilih secara acak dari beberapa petani yang ada di Desa Nania, terdiri dari petani di Nania Bawah dan petani di Air Salak.

2.3 Teknik Analisis

      Rumus Biaya

Biaya total = biaya tetap + biaya variabel

      Rumus Penerimaan

Penerimaan = jumlah produksi × harga

      Rumus Keuntungan

Keuntungan = penerimaan – biaya total

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

  1. 1.      Produksi Usahatani Berdasarkan Pola Tanam dalam Satu Tahun

Berdasarkan hasil survey lapangan, rata-rata pola tanam petani hortikultura Desa Nania adalah pergiliran tanaman, dimana setelah satu komoditi selasai panen dilanjutkan dengan jenis komoditi yang lain. Rata-rata produksi yang dihasilkan selama satu tahun yaitu :

ü  Kangkung         1800-2000 ikat/tahun

ü  Sawi                 2400-2600 ikat/tahun

ü  Bayam              1200-1500 ikat/tahun

Dari hasil yang diperoleh diatas, menurut petani setempat hasil tersebut bisa ditingkatkan manakala permintaan akan sayur-sayuran dipasaran meningkat serta didukung oleh kondisi cuaca/iklim yang baik. Peluang peningkatan produksi bisa dicapai sekitar 15% atau sekitar 225 ikat/tanaman.

Namun hal ini sulit tercapai karena akhir-akhir ini kondisi cuaca mulai berubah, sehingga produksi petani umumnya berkurang sekitar 10% atau sekitar 120 ikat/tanaman. Hal ini disebabkan karena peningkatan  populasi hama dan penyakit yang berkembang pada kondisi lembab.

Untuk komoditi pangan, responden yang kami temui adalah petani subsisten yang berusahatani hanya untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

  1. 2.      Biaya Usahatani
  • Biaya Tetap

Biaya tetap dalam proses produksi komoditi hortikultura adalah Rp 2.000.000,00 (biaya sewa lahan).

Untuk komoditi tanaman pangan (singkong), umumnya petani hanya membeli lahan dengan biaya Rp. 500.000,00 untuk lahan 1 Ha yang dibelinya sejak tahun 1999.

  • Biaya Variabel

Biaya variabel dari komoditi tanaman pangan tidak ada, karena umumnya bibit yang didapatkan hanya diminta dari petani lain sehingga ia tidak lagi mengeluarkan biaya untuk pembelian bibit. Sedangkan biaya pestisida dan pupuk tidak ia gunakan dalam kegiatan produksi tanaman pangan.

Biaya-biaya yang dikeluarkan para petani di desa Nania selama proses produksi komoditi hortikultura adalah sebagai berikut :

Biaya

Jumlah Biaya (Rp)

  1. Bibit

30.000-50.000/Kg

  1. Peralatan

125.000

  1. Obat-obatan

60.000-80.000

  1. Pupuk

90.000-100.000/Kg

  1. Pengairan

100.000/bulan

 

Selama proses produksi, petani tidak menggunakan tenaga kerja luar dengan alasan agar pengeluaran mereka tidak banyak. Mereka hanya mengandalkan tenaga sendiri, kalaupun butuh tenaga kerja tamabahan mereka saling membantu satu sama lain, sehingga pekerjaan mereka cepat terselesaikan.

 

  1. 3.      Keuntungan Usahatani

Keuntungan yang diperoleh dari petani komoditi pangan (singkong) hanya sekitar Rp 500.000,00/panen (8 bulan), biaya ini biasanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga saja, bukan digunakan sebagai modal pada periode produksi berikutnya.

Sedangkan keuntungan yang diperoleh petani tanaman hortikultura adalah sebagai berikut :

      Kangkung

Dengan asumsi produksi rata-rata/tahun adalah 1.800 ikat denga harga Rp 3.000,00/ikat maka keuntungan petani adalah :

Pendapatan : 1800 × 3000 = 5.400.000/tahun

      Sawi

Dengan asumsi produksi rata-rata/tahun adalah 2.400 ikat denga harga Rp 4.000,00/ikat maka keuntungan petani adalah :

Pendapatan : 2.400 × 4000 = 9.600.000/tahun

      Bayam

Dengan asumsi produksi rata-rata/tahun adalah 1.200 ikat denga harga Rp 1.000,00/ikat maka keuntungan petani adalah :

Pendapatan : 1.200 × 1000 = 1.200.000/tahun

 

Jadi total penerimaan petani selama 1 tahun untuk produksi tanaman hortikultura (kangkung, sawi dan bayam) adalah Rp 16.200.000,00

Sehingga penerimaan petani dalam setahun adalah :

16.200.000 – 2.000.000 (biaya sewa lahan) – 3.770.000 (biaya yang dikeluarkan selama proses produksi) = 10.430.000/tahun

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan

Berdasarkan penjelasan di atas, kami dapat mengambil beberapa kesimpulan sebagai berikut :

ü  Produksi hasil usahatani umunya sangat tergantung pada kondisi cuaca/iklim.

ü  Biaya yang dikeluarkan petani tanaman pangan relatif lebih kecil dibandingkan dengan petani tanaman hortikultura.

ü  Meski pengeluaran petani tanaman hortikultura relatif lebih besar, akan tetapi keuntunganny relatif lebih besar dari petani komoditi pangan (singkong).

4.2 Saran

ü  Bagi petani yang masih bersifat subsiten dalam mengolah lahannya, agar dapat beralih pada pertanian komersil guna dapat meningkatkan taraf hidup yang lebih baik.

ü  Tetaplah berusaha jika suatu saat terhalang masalah, karena kesuksesan hanya datang dari orang yang giat bekerja dan pantang menyerah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Penawaran produk pertanian dipengaruhi oleh harga komoditas pertanian itu sendiri, teknologi produksi, ketersediaan dan keterjangkauan input produksi dan juga aspek manajemen dalam manajemen proses produksi usahataninya. Berkaitan dengan proses produksi yang sangat bergantung pada musim dan juga proses biologis tanaman, maka berimplikasi pada melimpahnya komoditas pertanian pada suatu musim dan kelangkaan pada waktu yang lain.

Hal di atas menyebabkan berlakunya mekanisme pasar sehingga harga cenderung turun drastis pada saat musim panen dan menigkat pada musim paceklik.

1.2  Permasalahan

Masalah yang dihadapi oleh petani dalam menawarkan produknya adalah persaingan antara komoditi lokal dan impor yang berimplikasi pada kesenjangan harga antar komoditas.

1.3 Tujuan Praktikum

Praktikum ini bertujuan untuk :

  1. Menganalisis karakteristik produk pertanian berdasarkan kualitas, kuantitas produksi, harga komoditas serta manajemen pemasaran atas produk pertanian.
  2. Menganalisis perubahan harga komoditas antar waktu.
  3. Menganalisis perubahan teknologi yang terjadi selama proses produksi yang dilaksanakan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

METODE PRAKTIKUM

2.1 Lokasi dan Waktu

Praktikum ini dilaksanakan di Desa Nania tanggal 12 Januari 2013. Dimulai dari jam 11.30-selesai.

2.2 Metode Praktikum

Ü  Survey

Survey dilakukan dilakukan untuk kelompok komoditas :

ü  Tanaman pangan (5 petani)

ü  Tanaman hortikultura (5 petani)

Survey berkaitan dengan penggalian data primer dengan menggunakan instrumen berupa kuisioner yang disusun tim pembina praktikum.

Ü  Sample

Sampel dipilih secara acak dari beberapa petani yang ada di Desa Nania, terdiri dari petani di Nania Bawah dan petani di Air Salak.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

  1. 1.      Karakteristik Produk Pertanian Berdasarkan Kualitas, Kuantitas Produksi, Harga Komoditas serta Manajemen Pemasaran Produk Pertanian

Dari segi kualitas, produk pertanian umumnya hanya dapat bertahan < 1 minggu sehingga butuh suatu usaha yang dapat menjaga kualitas dari produk pertanian tersebut. Seperti penyimpanan pada suhu tertentu sehingga penguapan tidak terlalu cepat.

Dari segi kuantitas, produk pertanian umumnya menghasilkan jumlah produk yan cukup banyak dibandingkan dengan produk non pertanian. Sehingga akan sangat rentan jika produk tersebut dipasarkan pada saat musim panen, hal ini berpengaruh pada harga yang akan diterima oleh petani yang relatif lebih kecil dibandingkan dengan pada saat produk tersebut sedikit diproduksikan.

Pemasaran produk pertanian akan sangat baik jika saluran pemasarannya tidak terlalu panjang. Hal ini sangat berpengaruh terhadap harga yang akan diterima oleh petani, semakin panjang saluran pemasaran maka semakin kecil harga yang akan diperoleh petani.

  1. 2.      Perubahan Harga Komoditas

Harga komoditas pertanian umumnya sangat bergantung pada kondisi lingkungan (cuaca/iklim). Semakin lembab kondisi lingkungan, semakin menurun produk yang dihasilkan khususnya bagi tanaman non aquatic. Hal ini sangat dirasakan  pada saat musim hujan yang berlangsung cukup lama, harga komoditas tanaman hortikultura umumnya sangat mahal dibandingkan dengan komoditas lainnya.

Berdasarkan hasil wawancara umumnya petani banyak menerima pesanan pada musim penghujan, karena harga komoditi akan meningkat dibandingkan diluar musim penghujan. Harga komoditas hortikultura pada musim penghujan berkisar pada Rp 2.000,00-7.000,00/ikat, tegantung dari jenis komoditi yang diusahakan. Diluar musim penghujan harga komoditi tanaman hortikultura bekisar Rp. 1.000,00-5.000,00/ikat.

  1. 3.      Perubahan Teknologi Selama Proses Produksi

Tidak ada teknologi yang sangat modern yang kami temui pada petani komoditi tanaman pangan dan horikultur. Hal ini disebabkan karena petani masih bergantung pada modal yang dimiliki sehingga membatasi petani untuk menggunakan peralatan yang sangat modern. Selain itu, alat-alat yang dibutuhkan pun masih belum tersedia untuk memenuhi kebutuhan petani. Alat yang menurut kami cukup modern yang digunakan oleh petani tanaman hortikultura adalah hand tracktor. Selebihnya masih sederhana sesuai dengan pengalaman petani.

 

BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan

Berdasarkan penjelasan di atas, kami dapat mengambil beberapa kesimpulan sebagai berikut :

ü  Penawaran komoditas pertnian yang bergantung pada kondisi ligkungan (cuaca//iklim).

ü  Implikasi dari hal di atas adalah penawaran produk yang akan melimpah pada musim panen dan berkurang pada kondisi diluar musim panen.

ü  Semakin tinggi teknologi yang digunakan, semakin banyak produk yang ditawarkan oleh produsen.

4.2 Saran

ü  Petani harus dapat memprediksi musim tanam efektif yang dapat digunakan untuk mengefisienkan input pertanian guna memperoleh keuntungan yang optimal.

ü  Penggunaan teknologi harus ddisesuaikan dengan kebutuhan agar teknologi tersebut tepat guna.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

1.3  Latar Belakang

Preferensi konsumen merupakan indikator permintaan pasar terhadap produk pertanian. Faktorr tersebut harus menjadi pertimbangan bagi petani produsen dalam menentukan jenis komoditi yang akan diproduksi. Misalkan saja berbagai jenis sayuran bisa diusahakan oleh petani sesuai dengan agroekosistemnya, namun selera pasar tidak diketahui dan tidak pasti. Oleh karena itu perlu dilakukan pengkajian untuk mengevaluasi selera konsumen, agar dapat diketahui jenis sayuran atau komoditi lain yang palig disukai oleh sebagian besar konsumen dan skala prioritasnya. Di samping itu, petani produsen juga akan mempunyai kriteria dalam menentukan pilihan usahataninya. Meskipun permintaan terhadap suatu komoditas tinggi, tetapi jika resiko dan kebutuhan terhadap investasi atau biaya produksi besar belum tentu petani akan mengusahakan komoditi tersebut.

Perencanaan usahatani secara umum membutuhkan informasi tentang selera pasar dan keinginan serta kemampuan petani produsen mengusahakannya. Seiring dengan informassi pasar tidak tersedia, akibatnya permitaan terhadap suatu jenis komoditas yang disukai konsumen tidak terpenuhi. Dampak lebih jauh adalah terjadi fluktuasi harga yang tinggi.

 

1.4  Permasalahan

Masalah yang dihadapi oleh produk pertanian domestik adalah persaingan dengan produk impor yang memiliki positioning yang lebih baik.

 

1.3 Tujuan Praktikum

Praktikum ini bertujuan untuk :

  1. Mengetahui atribut fisik, rasa, warna dan harga dari produk pertanian lokal dan impor.
  2. Menganalisis elastisitas pendapatan dari komoditas pertanian.

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

METODE PRAKTIKUM

 

2.1 Lokasi dan Waktu

Praktikum ini dilaksanakan di Pasar Lama Kota Ambon dan Foodmart Ambon Plaza tanggal 13 Januari 2013. Dimulai dari jam 11.30-selesai.

2.2 Metode Praktikum

Ü  Survey

Survey dilakukan dilakukan untuk kelompok komoditas :

ü  Tanaman pangan (5 konsumen)

ü  Tanaman hortikultura (5 konsumen)

Survey berkaitan dengan penggalian data primer dengan menggunakan instrumen berupa kuisioner yang disusun tim pembina praktikum.

Ü  Sample

Sampel dipilih secara acak dari beberapa konsumen yang ditemui di Pasar Lama Kota Ambon dan Foodmart Ambon Plaza.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

  1. 1.      Atribut Fisik, Rasa, Warna dan Harga dari Produk Pertanian Lokal dan Impor

Umumnya kondisi fisik dan warna produk lokal pada pasar tradisional tidak terlihat begitu menarik dan segar dibandingkan dengan produk yang berada di pasar modern. Hal ini dipengaruhi oleh tempat penyimpanan produk pertanian yang jauh berbeda antara kedua pasar. Seperti tampak pada gambar berikut.

 

Selain itu, kondisi tempat terlihat sangat berbeda antara kedua pasar dan kemasan produk yang berbeda pula. Di pasar tradisional produk yang dijual ditumpuk begitu saja, tetapi di pasar modern produl di kemas dalam bentuk yang hygienis sehingga membuat orang tertarik untuk membelinya.

Dari segi harga, umumnya pasar lokal menyediakan harga yang dapat dijangkau oleh semua kalangan konsumen dibandingakan dengan pasar modern. Seperti yang kita temui harga bayam/ikat di pasar tradisional berkisar Rp 2.000,00-3.00,000 sedangkan di pasar modern umumnya berkisar Rp. 6.000,00.

Produk pertanian lokal umumnya memiliki harga dibawah produk impor. Hal ini dipengaruhi oleh kualitas dari masing-masing komoditi. Konsumen menyukai produk yang berkualitas baik meski harganya relatif mahal.

 

  1. 2.      Elastisitas Pendapatan dari Komoditas Pertanian

Dari hasil pengamatan kami bahwa tingkat pendapatan mempengaruhi jumlah barang yang dikonsumsi seperti tampak pada tabel berikut.

Tabel konsumsi konsumen akibat perubahan pendapatan terhadap komoditi sayuran

Pendapatan (M)

Jumlah X (ikat/minggu)

ΔM

ΔX

500.000

5

750.000

7

1.200.000

7

1.500.000

10

1.700.000

10

2.000.000

13

2.000.000

11

2.500.000

14

2.500.000

12

3.450.000

16

Kita akan menganalisis elatisitas pendapatan terhadap komoditi sayuran dengan pendapatan Rp. 500.000,00

 

 (Q2 – Q1) / (Q2 + Q1) / (Y2 – Y1) / (Y2 + Y1)

 

Eᵧ = (7-5) / (7+5) / (750.000-500.000) / (750.000+500.000)

= 0,17 / 0,2 = 0,85

Jadi, tanaman sayuran merupakan barang kebutuhan pokok karena nilainya berada diantar 0 dan 1.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan

Berdasarkan penjelasan di atas, kami dapat mengambil beberapa kesimpulan sebagai berikut :

ü  Atribut fisik, rasa, warna dan harga dari produk pertanian lokal dan impor sangat jauh berbeda.

ü  Tingkat pendapatan mempengaruhi jumlah barang yang akan dikonsumsi.

4.2 Saran

ü  Pemerintah harus mengurangi kuota produk impor guna menjaga agar tidak terciptanya kesenjangan harga antara produk lokal dan impor.

ü  Petani harus membaca peluang akan komoditi yang banyak diminati oleh konsumen sehingga ia dapat menghasilkan produk sesuai dengan permintaan pasar.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

1.5  Latar Belakang

Permintaan suatu komoditi pertanian adalah banyaknya komoditi pertanian yang dibutuhkan dan dibeli oleh konsumen. Karena itu besar kecilnya komoditi pertanian umumnya dipengauhi oleh harga produk itu sendiri, tingkat pedapatan, selera masyarakat, termasuk juga harga barang substitusi dan komplementernya.

Di lain pihak Winardi (1976) menyatakan bahwa pengertian permintaan adalah jumlah barang yang sanggup dibeli oleh para pembeli pada tempat dan waktu tertentu dengan harga yang berlaku saat itu. Sedangkan menurut Bishop dan Toussaint (1958), pengertiaan permintaan dipergunakan untuk mengetahui hubungan jumlah barang yang dibeli oleh konsumen dengan harga alternatif untuk membeli barang yang bersangkutan dengan anggapan bahwa harga barang lainnya tetap. Hal ini dapat dijelaskan dengan kurva permintaan, yaitu kurva yang menunjukkan hubungan antara jumlah maksimum dari barang yang dibeli oleh konsumen dengan harga alternatif pada waktu tertentu.

1.6  Permasalahan

Masalah yang dihadapi oleh kosumen dalam pada saat terjadi kenaikan harga, maka jumlah produk yang ingin diminta berkurang dan bagi produsen ia akan membatasi jumlah produksinya guna mengurangi tambahan biaya produksi.

1.3 Tujuan Praktikum

Praktikum ini bertujuan untuk :

  1. Menganalisis tingkat elastisitas harga terhadap permintaan.
  2. Menganalisis dampak dari penurunan harga terhadap permintaan dan penerimaan produsen.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

METODE PRAKTIKUM

 

2.1 Lokasi dan Waktu

Praktikum ini dilaksanakan di Pasar Lama Kota Ambon dan Foodmart Ambon Plaza tanggal 13 Januari 2013. Dimulai dari jam 11.30-selesai.

2.2 Metode Praktikum

Ü  Survey

Survey dilakukan dilakukan untuk kelompok komoditas :

ü  Tanaman pangan (5 konsumen)

ü  Tanaman hortikultura (5 konsumen)

Survey berkaitan dengan penggalian data primer dengan menggunakan instrumen berupa kuisioner yang disusun tim pembina praktikum.

Ü  Sample

Sampel dipilih secara acak dari beberapa konsumen yang ditemui di Pasar Lama Kota Ambon dan Foodmart Ambon Plaza.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

  1. 1.      Tingkat Elastisitas Harga terhadap Permintaan

Berikut adalah skedul permintaan konsumen pasar Lama kota Ambon terhadap komoditi sayuran.

Titik

Harga (Rp)

Jumlah (ikat)

e

A

6.000

2

3

B

5.000

3

5/3

C

4.000

4

1

D

3.000

5

3/5

E

2.000

6

2/6

Permintaan disebut elastis jika e > 1, inelastis jika e < 1 dan elastis uniter jika e = 1.

 

Dari data di atas, titik elastis terjadi harga Rp 5.000,00-6.000,00 dengan jumlah barang yang diminta yaitu 2 – 3 ikat.

 

 

 

  1. 2.      Dampak Penurunan Harga terhadap Permintaan dan Penerimaan Produsen

Dari data di atas tampak bahwa penurunan harga berdampak pada peningkatan permintaan terhadap barang tersebut. Hal ini tentunya sangat menguntungkan kosumen daripada produsen, karena dengan turunnya harga konsumen dapat membeli produk sebanyak mungkin. Meski demikian, hal ini tidak berdampak positif bagi produsen karena penerimaannya tidak sebanding dengan pengeluarannya.

Jika hal ini terjadi, umumnya produsen mensiasati dengan mengurangi produksi sehingga barang tersebut menjadi langka yang akan memicu kenaikan harga sehingga penerimaan produsen pun meningkat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan

Berdasarkan penjelasan di atas, kami dapat mengambil beberapa kesimpulan sebagai berikut :

ü  Tingkat elastisitas harga komoditi sayuran yang tercipta di pasar Lama Kota Ambon berkisar pada harga Rp. 5.000,00 – 6.000,00

ü  Penurunan harga akan berdampak pada pengurangan produk yang akan dihasilkan oleh produsen

4.2 Saran

ü  Jika terjadi kelangkaan barang, produsen haruslah menawarkan produk dengan harga yang dapat dijangkau oleh semua kalangan masyarakat.

ü  Dengan adanya kerja sama yang baik antara produsen dengan konsumen maka akan tercipta lingkungan yang sejahtera.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

1.7  Latar Belakang

Pasar adalah keseluruhan permintaan dan penewaran barang dan jasa tertentu. Pasa sendiri terbagi kedalam 2 tipe, yaitu :

ü  Pasar Konkrit, yaitu tempat berkumpulnya penjual dan pembeli untuk memperjualbelikan barang-barang yang terdapat di sana.

ü  Pasar Abstrak, yaitu tempat berkumpulnya penjual dan pembeli, akan tetapi barang yang diperjualbelikan tidak ada.

Pasar terdiri dari beberapa bentuk mulai dari tingkat yang sederhana sampai ke tingkat yang lebih kompleks. Hal ini sangat terasa pada saat kita berada di pasar modern dan tradisonal.

1.8  Permasalahan

Masalah yang dihadapi oleh para pedagang pasar tradisional adalah penentuan harga yang terkadang terlalu jauh dari harga yang komoditi yang diperoleh pedagang.

1.3 Tujuan Praktikum

Praktikum ini bertujuan untuk :

  1. Menganalisis struktur pasar yang terbentuk pada masing-masing komoditas pada masing-masing pasar.
  2. Menganalisis penentuan harga yang terjadi di pasaran.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

METODE PRAKTIKUM

 

2.1 Lokasi dan Waktu

Praktikum ini dilaksanakan di Pasar Lama Kota Ambon dan Foodmart Ambon Plaza tanggal 13 Januari 2013. Dimulai dari jam 11.30-selesai.

2.2 Metode Praktikum

Ü  Survey

Survey dilakukan dilakukan untuk kelompok komoditas :

ü  Tanaman pangan (5 pedagang pasar tradisional, 1 pasar modern)

ü  Tanaman hortikultura (5 pedagang pasar tradisional, 1 pasar modern)

Survey berkaitan dengan penggalian data primer dengan menggunakan instrumen berupa kuisioner yang disusun tim pembina praktikum.

Ü  Sample

Sampel dipilih secara acak dari beberapa konsumen yang ditemui di Pasar Lama Kota Ambon dan Foodmart Ambon Plaza.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

  1. 1.    Struktur Pasar dari Masing-Masing Komoditas

Struktur pasar yang terbentuk yaitu :

Ü  Pasar Persaingan Sempurna (terdapat pada Pasar Lama Kota Ambon)

Hal ini didasari pada beberapa hal berikut yang menjadi ciri pasar persaingan sempurna :

ü  Terdapat penjual dan pembeli.

ü  Penjual dan pembeli mengetahui betul kondisi pasar.

ü  Penjual dan pembeli bebas mengambil keputusan dalam menetapkan harga.

ü  Harga ditentukan dari kesepakatan antara penjual dan pembeli.

ü  Barang yang diperjualbelikan bersifat homogen.

ü  Terdapat banyak penjual dan pembeli dari barang yang sama.

ü  Terjadinya persaingan harga.

Ü  Pasar Persaingan Monopolistis (terdapat pada Foodmart Ambon Plaza)

Hal ini didasarkan pada :

ü  Pasar yang memiliki banyak produsen dimana perusahaan pesaing bebas memasukan industri mereka serta mendiferensiasikan produk mereka.

ü  Produsen bertindak sebagai price maker.

ü  Produk yang diperjualbelikan bersifat heterogen.

 

  1. 2.    Penentuan Harga di Pasaran

Di pasar Lama, harga pasar sangat ditentukan oleh kekuatan tawar menawar penjual dan pembeli hingga mencapai kata sepakat untuk barang yang diperjualbelikan. Lain halnya dengan barang-barang yang terdapat di Foodmart, umumnya harga telah ditetapkan produsen sehingga konsumen tidak dapat melakukan kegiatan tawar menawar.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan

Berdasarkan penjelasan di atas, kami dapat mengambil beberapa kesimpulan sebagai berikut :

ü  Struktur pasar sangat ditentukan oleh interaksi antara penjual dan pembeli, penentuan harga pasar serta pengambilan keputusan dalam menetapkan harga.

ü  Penentuan harga sangat ditentukan oleh bentuk pasar yang bersangkutan.

4.2 Saran

ü Pembeli harus mengetahui kondisi pasar agar dapat disesuaikan dengan biaya yang dimilikinya.

ü Pemerintah harus mengambil kebijakan untuk melindungi konsumen dan produsen agar kedua bela pihak tidak merasa dirugikan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Salvatore, Dominick. 1982. Teori Mikroekonomi Edisi Kedua. Erlangga: Jakarta

Soekartawi. 2002. Prinsip Dasar Ekonomi Pertanian: Teori dan Aplikasi. PT RajaGrafindo Persada: Jakarta

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Lampiran I (Karakteristik Responden dan Profil Usahatani)

 

Nama                           : Rasid

Umur                           : 50 tahun

Jenis Kelamin              : Laki-laki

Pendidikan Terakhir    : –

Pekerjaa                       : a. Utama                    : Petani

                                      b. Sampingan                        : –

Jumlah anggota keluarga         : 5 orang

 

Lama bekerja                                       : 2 tahun

Alasan bekerja                                     : tidak ada pilihan lain

Jenis komoditi yang diusahakan         : Sawi, Kangkung dan Bayam

Pola tanam                                          : tumpang sari

 

Nama                           : Hasma

Umur                           : 22 tahun

Jenis Kelamin              : Perempuan

Pendidikan Terakhir    : SD

Pekerjaa                       : a. Utama                    : Petani

                                      b. Sampingan                        : –

Jumlah anggota keluarga         : 3 orang

 

Lama bekerja                                       : 6 bulan

Alasan bekerja                                     : tidak ada pilihan lain

Jenis komoditi yang diusahakan         : Sawi, Kangkung dan Bayam

Pola tanam                                          : tumpang gilir

Nama                           : Mail

Umur                           : 24 tahun

Jenis Kelamin              : Laki-laki

Pendidikan Terakhir    : SD

Pekerjaa                       : a. Utama                    : Petani

                                      b. Sampingan                        : –

Jumlah anggota keluarga         : –

 

Lama bekerja                                       : 4 tahun

Alasan bekerja                                     : sebagai sumber pendapatan utama/sampingan bagi keluarga

Jenis komoditi yang diusahakan         : Kangkung, Sawi, dan Bayam

Pola tanam                                          : tumpang gilir

 

Nama                           : Arsudi

Umur                           : 60 tahun

Jenis Kelamin              : Laki-laki

Pendidikan Terakhir    : SD

Pekerjaa                       : a. Utama                    : Petani

                                      b. Sampingan                        : –

Jumlah anggota keluarga         : 6 orang

 

Lama bekerja                                       : 7 tahun

Alasan bekerja                                     : sebagai sumber pendapatan utama/sampingan bagi keluarga

Jenis komoditi yang diusahakan         : Sawi, Kangkung dan Bayam

Pola tanam                                          : Tumpang gilir

 

Nama                           : Udin

Umur                           : 35 tahun

Jenis Kelamin              : Laki-laki

Pendidikan Terakhir    : SD

Pekerjaa                       : a. Utama                    : Petani

                                      b. Sampingan                        : –

Jumlah anggota keluarga         : 4 orang

 

Lama bekerja                                       : 2 tahun

Alasan bekerja                                     : tidak ada pilihan pekerjaan yang lain

Jenis komoditi yang diusahakan         : Kangkung, Sawi dan Bayam

Pola tanam                                          : Tumpang gilir

 

Nama                           : Ical

Umur                           : 33 tahun

Jenis Kelamin              : Laki-laki

Pendidikan Terakhir    : SD

Pekerjaa                       : a. Utama                    : Petani

                                      b. Sampingan                        : Penjual sayur

Jumlah anggota keluarga         : 4 orang

 

Lama bekerja                                       : 3 tahun

Alasan bekerja                                     : sebagai sumber pendapatan utama/sampingan bagi keluarga

Jenis komoditi yang diusahakan         : Singkong

Pola tanam                                          : 8 bulan/sekali panen

 

 

                                                    

 

 

 

 

 

Lampiran II (Dokumentasi Lapangan)

      Lokasi : Nania Bawah

     

 

 

 

      Lokasi : Pasar Lama Ambon

   

      Lokasi : Foodmart Ambon Plaza